Teropong

 

                                                                                    Pict: Pexel

                “Itu kamar lo. Yang sebelah sini kamar gue.” kata Riki menjelaskan.

                Sebelum Adin masuk ke kamarnya, ia sempat melirik ke dalam kamar Adin yang berukuran sama dengan kamarnya. Bedanya, tempat tidur Riki lebih besar, sedangkan tempat tidurnya hanya berukuran single. Tapi tidak mengapa, karena dengan begitu ia bisa menaruh beberapa barang dengan leluasa.

                Oke, thanks.” jawab Adin sambil meletakkan tas punggung dan koper di lantai kamar.

                “Oh, ya, kalau mau masak, ada dapur. Tapi lo harus belanja sendiri. Ada kulkas, ada lemari dapur, ada panci, ada alat masak. Terserah lo, mau masak atau enggak.”

                “Sip.”

                Riki berbalik ke arah kamarnya. Lalu tiba-tiba ia kembali ke depan kamar Adin.

                “Satu hal lagi, jangan ikut campur urusan gue. Gue juga nggak akan mencampuri urusan lo. Lo mau bawa cewek ke dalam kamar lo pun gue enggak peduli.”

                Walau pun sedikit terkejut dengan pernyataan Riki barusan, Adin tetap memberikan respon. Adin memberikan ibu jarinya ke arah Riki sebagai jawaban. Sebelum Riki semakin banyak bicara, Adin menutup pintu kamarnya dan mulai membereskan barang-barang yang dibawanya.

                Adin memutuskan pindah kos dari rumah kos lamanya ke Apartemen untuk mencari suasana baru. Kebetulan Adin mendengar dari kawan kantornya kalau Riki, sedang mencari roommate. Adin tidak mengenal Riki secara dekat. Juga tidk tahu bekerja di mana. Malah baru bertemu kali ini. Namun Adin tidak mempermasalahkannya. Toh, nanti mereka akan saling kenal karena tinggal di satu Apartemen.

                Setelah memasukkan baju-baju ke dalam lemari yang menempel di dinding, Adin menyimpan koper di lemari bagian atas. Kemudian ia beralih k etas punggungnya. Ia mengeluarkan laptop dan menaruh di meja kerja, dan mulai merapikan area meja dengan buku-buku yang ia bawa.

                Setelah tiga puluh menit beberes, Adin mengambil sebungkus kopi sachet dari tas kresek hitam. Lalu Adin membuka pintu kamar untuk memasak air di dapur. Adin melihat Riki sedang bermain dengan ponselnya sementara tivi dibiarkan menyala. Adin ingat pernyataan Riki tadi untuk tidak usah ikut campur urusan masing-masing.

***

                Malam ini Adin lembur dan pulang malam. Ketika ia masuk ke dalam Apartemen, Adin melihat kalau Riki sudah sampai lebih dulu. Seperti biasa tivi dibiarkan menyala, sementara Riki sedang di kamar mandi. Karena dari kamar Riki yang terbuka, Adin tidak melihat roommatenya itu. Namun ada pemandangan yang ia rasa tidak biasa. Ia melihat ada sebuah teropong panjang yang tepasang di sebelah tempat tidurnya. Mengapa teropongnya tidak dipasang di ruang tivi yang menghadap ke balkon? Bukankah disana lebih luas bila ingin melihat bintang?  

                Riki keluar dari kamar mandi dengan handuk yang diusapkan ke kepalanya yang basah. Adin tengah membuat kopi di dapur kecil yang bersebelahan dengan kamar mandi.

                “Udah pulang, lo?”

                “Udah, baru ajah. Mau kopi?” ujar Adin sambil mengucurkan air panas ke dalam cangkir.

                “Boleh, kalau ada.” jawab Riki sambil masuk ke kamar.

                Adin menyeduhkan kopi secangkir lagi untuk Riki.

                Beberapa saat kemudian Riki keluar kamar dengan berpakaian lengkap. Kaos polo warna merah dan jeans, serta parfum yang menyengat hidung. Adin melirik ke jam tangannya. Pukul sepuluh lewat lima belas menit.     

“Malem-malem gini mau kemana, Ki? Rapi bener.”

                Riki tersenyum tanpa menjawab. Namun ia langsung mengambil cangkir kopinya yang di tinggalkan Adin di meja dapur untuknya, lalu meyeruputnya.

                “Gue ada janji. Ya, bisnis-bisnis kecillah.” Riki mengenakan sepatu kets slip on-nya.

                “Bisnisnya aman, kan?”

                “Pasti dong.” Riki kembali meminum kopinya hingga setengah cangkir. “Gue pergi dulu, bro.”

                Riki menutup pintu Apartemen.

                Sepuluh menit kemudian Adin membuka pintu balkon.  Angin dingin serta merta merta meniup tubuhnya. Adin memandang ke sekitar kamar-kamar Apartemen. Beberapa kamar lampunya menyala, beberapa masih gelap. Adin tertarik dengan sebuah kamar dengan gordainnya yang  terbuka. Ada seorang perempuan yang tampaknya baru pulang dari bepergian. Perempuan itu menaruh tas di meja dekat jendela. Lalu tampak perempuan itu ditarik kebelakang oleh seseorang yang tidak dapat Adin lihat. Walaupun Adin telah mencondongkan tubuhnya, tetap tidak terlihat.

                Tiba-tiba Adin ingat kalau Riki memiliki teropong. Aku akan meminjamnya diam-diam. Semoga saja kamar Riki tidak di kunci.

                Adin masuk ke dalam Apartemen lalu menutup pintu balkon. Ia lalu melangkah tergesa ke arah kamar Riki. Adin memegang gagang pintu dan mendorongnya. Terbuka! Ternyata Riki memang tidak pernah mengunci kamarnya. Adin masuk ke dalam kamar Riki yang gelap namun gordain pada jendelanya dibiarkan terbuka. Adin lalu berdiri dibelakang teropong.

                Oh, my god!” Adin terkejut, tanpa ia atur, teropongnya sudah tertuju ke kamar perempuan itu.

Untuk apa Riki mengunci pemandangan teropongnya pada kamar perempuan itu? Apakah Riki punya maksud tertentu pada perempuan itu? Apakah Riki ada hati dengan perempuan yang cantik dengan rambut hitam sepunggung itu?

                Adin mengintip dari lubang teropong. Ia melihat perempuan itu tampak meronta dari cengkeraman tangan yang kuat. Perempuan yang sepertinya ia kenal, namun mungkin saja bukan. Karena banyak perempuan cantik seperti yang dilihatnya di sana.

Perempuan itu tampak berteriak, namun Adin tidak dapat mendengarnya. Beberapa menit Adin melihat kejadian itu. Sampai akhirnya perempuan itu terjatuh ke lantai setelah kepalanya dihantam lampu tidur yang terbuat dari kuningan.

                Adin tak sanggup bernapas. Matanya membelalak ketakutan. Tubuhnya gemetar. Perlahan ia mundur dua langkah dari tempat teropong berdiri. Adin takut sekali orang yang mengenakan baju merah itu melihat dirinya yang mengintip dari kejauhan.

                Adin buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Menyambar gelas berisi air mineral dan meminumnya hingga tandas. Adin segera ke kamar dan menguncinya. Ia tidak ingin Roommatenya mengetahui kalau ia telah lancang masuk ke kamarnya dan melihat kejadian yang membuatnya gemetaran.

***

                Paginya, Adin bangun terlambat. Hampir semalaman ia tidak tidur karena ketakutan. Entah pukul berapa akhirnya ia bisa terlelap. Tanpa mandi, Adin bergegas mengenakan baju kerjanya. Biarlah nanti ia mandi di kantor. Ia menyemprotkan parfum aroma lelaki ke sekujur tubuhnya. Dan ia melepit beberapa baju salin. Ia tidak ingin ada di Apartemen beberapa hari ini. Ia ingin menginap entah di rumah siapa nanti malam. Yang penting ia tidak ingin bertemu dengan Riki.

                “Enggak mandi dulu, bro?” tanya Riki ketika melihat Adin sedang mengunci kamar sudah dengan pakaian lengkap.

                “Udah kesiangan. Gue cabut, ya.” Tanpa memandang ke Riki, Adin langsung buru-buru ke luar apartemen sambil berlari menuju lokasi motornya terparkir.

***

                Sudah tiga hari Adin tidak pulang ke Apartemen. Ia sudah mendapatkan tempat kos baru. Malam ini ia akan pindah dari apartemen Riki. Biarlah ia rugi karena telah membayar sewa apartemen dua bulan di muka. Yang penting ia tidak ketakutan lagi.

                Adin sampai di apartemen dalam keadaan sepi. Tivi dalam keadaan mati. Berarti Riki tidak ada di kamarnya. Adin dengan segera merapikan semua barang-barangnya dengan cepat.

                “Mau kemana, bro? Kok kayak mau cabut gituh?”

                Adin terkejut. Ia tidak menyangka kalau Riki sudah pulang. Adin melirik Riki yang tengah menyandar di tiang pintu.

                “Eh, Rik, sorry, gue di minta Nyokap kudu balik ke rumah dulu. Kangen, katanya. Ya, gue enggak bisa nolaklah. Tapi gue enggak minta lagi uang yang udah gue bayarin ke lo.”

                “Tiba-tiba amat? Ada apa?”

                Adin menaikkan bahunya.

                “Mungkin Nyokap kesepian sejak kakak gue nikah dan tinggal di luar kota. Adik gue juga kos deket tempat kuliahnya. Ya, satu-satunya yang enggak punya alasan untuk nolak kan cuma gue.” Adin berdiri sambil memasang tas di punggungnya.

                “Oh, karena Nyokap. Gue kira karena kematian Minel?”

                “Minel? Siapa tuh Minel?” Adin mengernyitkan keningnya. Dadanya mulai bergetar hebat.

                “Ituh perempuan jadi-jadian yang mayatnya ditemukan di kamarnya tiga hari yang lalu.”

                “Oh, namanya Minel?”

                Jadi perempuan itu benar Minel. Dan dia bukan perempuan tulen, tapi perempuan jadi-jadian. Tapi Minel terlihat sangat asli.

                “Lo pernah ketemu sama Minel?”

                Adin buru-buru menggeleng. Ia tahu ini adalah pertanyaan jebakan dari Riki.

                “Ituh tadi, yang lo bilang ada orang yang mati, namanya Minel.”

                Adin menarik koper besar berwarna coklat dan sebuah tas besar.

                “Gue cabut, ya, sampai ketemu lagi.” Adin menjabat tangan Riki yang masih memandangnya curiga. Riki Balas menjabat tangannya kencang. Lalu dengan segan, Riki memberikan jalan untuk Adin.

                Adin menaruh kunci kamar dan pintu depan di meja dapur. Lalu ia membuka pintu apartemen. Tapi ternyata terkunci. Adin bermaksud mengambil kunci dari meja dapur untuk membuka pintu, namun sebuah benda keras menghantam kepalanya dengan keras. Seketika Adin tersungkur dengan keras ke lantai.

                “Lo kira, gue bakal membiarkan lo pergi begitu saja, setelah lo liat kematian Minel?” Riki memberikan tendangan ke perut Adin. “Lo kira gue enggak tau kalau lo udah masuk ke kamar gue dan lo liat semua kejadiannya? Dasar bodoh! Gue udah bilang jangan ikut campur urusan gue, tapi lo malah ngelanggar! Lo malah kepo! Sok pengin tau!”

                Riki melayangkan tendangan ke arah kepala Adin, namun Adin dengan cepat menangkapnya dan menariknya hingga Riki terjatuh. Lalu, dengan kecepatan kilat, Adin mengambil helm yang terjatuh didekatnya lalu menghantamkan ke tubuh dan kepala Riki berkali-kali. Setelah Riki tidak bergerak, Adin merapikan bajunya dan membersihkan darah dari hidungnya.

Adin merapikan barang-barang yang bergelimpangan ke tempatnya dengan tanpa jejak. Semua bekas sidik jarinya di hapus dengan lap. Lalu Adin melangkah keluar apartemen dengan sikap biasa-biasa saja. Setidaknya ia telah menghilangkan pembunuh Minel, kekasihnya yang telah mencampakkan dirinya demi seorang Riki. Tidak akan ada yang tahu kejadian ini. Tidak ada juga yang mengenalinya. Karena CCTV yang ada di sepanjang lorong itu sudah di rusak olehnya sejak kedatangannya seminggu yang lalu.

Adin masuk ke dalam lift dan keluar dengan dandanan ala perempuan.

 

Komentar