Fashion Show Pertama Rully

 

                                                                                                                Gb. Pixabay

            “Pak Sobri, tunggu!”

Rully berlari tergopoh-gopoh menuju gerbang besi berwarna hijau yang nyaris tertutup. Pak Sobri, satpam sekolah berkacak pinggang.

“Rully lagi…  Rully lagi . Telat lagi…telat lagi.”  ucapnya pura-pura marah.

“Pak Sobri yang baik hati, tolong bukakan pintu untuk Rully.” kata Rully menirukan lakon bawang merah yang memelas.

Dengan masih berpura-pura menampakkan wajah angker dengan kumis baplang, Pak Sobri memberikan sedikit celah pintu pagar yang dapat dilewati Rully. Walaupun bertampang galak, Pak Sobri tidak tega melihat murid-murid SMU Rembulan terkena hukuman karena telat satu-dua menit. Malah ia kerap membantu anak-anak murid yang terlambat hingga lima belas menit. Alasannya, kasihan karena rumah mereka jauh. Lagipula anak-anak itu sudah berusaha datang ke sekolah tepat waktu.

 Rully seketika melesat masuk menuju kelasnya didekat tangga. Hari ini jadwal Bu Dorothy, wali kelasnya, untuk mengajar Sejarah. Bisa runyam kalau keduluan Ibu guru yang terkenal main tunjuk itu.

Benar saja, ketika Rully membuka pintu kelas, ia melihat Bu Dorothy dengan senyum bangga menatapnya dari kursi guru.  Lalu telunjuk saktinya  tertuju ke arah Rully yang berdiri menempel di pintu kelas seperti cicak.

“Terlambat lagi?”

pertanyaan yang tidak perlu dijawab Rully. Toh, ia memang datang terlambat dua menit setelah bel berbunyi. Oke, lima menit karena jarak dari gerbang ke kelasnya lumayan jauh.

            “Untuk murid sepintar kamu, nggak perlu Ibu kasih hukuman mengerjakan tugas. Pasti kamu bisa mengerjakan semua dengan nilai fantastis. Sebentar, Ibu akan memikirkan hukuman yang lebih pantas untukmu.” Ibu Dorothy membuka buku agendanya. Belum lagi ia membuka suara, sebuah suara keras telah membuat seisi kelas terkejut.

            Brakk!

            “Aaarrrghhh!!”

            Seisi kelas menjerit keras. Semua mata menatap pintu yang terbuka lebar. Seorang murid laki-laki terguling di lantai sambil memeluk bola. Dengan sigap anak itu berdiri sambil meringis kesakitan. Apakah Rully berubah menjadi anak laki-laki yang ganteng itu? Pikir mereka. Apakah jari telunjuk Ibu Dorothy benar-benar sakti sehingga membuat Rully berubah wujud menjadi laki-laki yang ganteng? Namun suara mengaduh dari balik pintu membuat mereka tersadar kalau Rully dan anak laki-laki itu adalah sosok yang berbeda.

            “Aduuuhhh.. Sakit,” Rully mendorong pintu yang menghimpitnya sambil mengelus keningnya yang dirasa tidak mulus lagi. Ada bukit sebesar bola bekel di sana.

            “Maaf, aku membuat keningmu benjol.”

            “Kamu siapa?” tanya bu Dorothy yang berdiri tak jauh dari keduanya . Jari  Ibu Dorothy tertuju pada sosok ganteng di sebelah Rully.

            “Nama saya Adam, Bu. Murid pindahan. Saya kelas XI-C.”

            “Oke, Adam, karena kamu sudah mengganggu kelas saya, sebagai hukumannya kamu dan Rully akan berpasangan pada acara Fashion Show  yang akan diadakan pada Pensi minggu depan. Kalian berdua harus memikirkan sebuah baju yang akan kalian peragakan. Buat sebaik mungkin. Jangan sampai kalah dari kelas lain.”

            Rully dan Adam melongo. Acara Fashion Show? Itu adalah acara yang akan ditonton oleh banyak orang. Dan aku benci ditonton banyak orang. Bagaimana bisa Ibu Dorothy menghukumnya seperti ini? Baru saja Rully membuka mulutnya, Ibu Dorothy sudah memainkan telunjuknya kembali.

            “Kamu, duduk di bangkumu. Kamu kembali ke kelas.”

            Rully langsung berjalan menuju kursinya sambil mengelus-elus keningnya yang benjol dan  terasa sakit. Sementara Adam melangkah keluar kelas.

            “Tanpa membuang waktu, simpan semua buku kalian, kita latihan test tengah semester.”

            Terdengar dengungan lebah dari mulut seisi kelas. Namun Ibu Dorothy tidak menggubris. Test tetaplah test.

***

            “Kau benar-benar terpilih menjadi peserta fashion show?” mata Arleta membesar. Mulutnya tebuka lebar karena kepedasan setelah makan bakwan dicocol sambel kecap.

            Rully mengangguk lemah. Membayangkannya saja sudah membuat perutnya mulas. Boro-boro fashion show, waktu kecil pun ia tidak mau ikut karnaval keliling klaster perumahan. Rully memang pendiam dan tidak banyak bicara kepada siapa pun, bahkan dengan keluarganya.

            “Kau sudah terpikir akan memakai baju apa?”

            Rully menggeleng.

            “Gila! Acaranya dua hari lagi dan kau masih belum memikirkan akan mengenakan baju apa?” seru Fatia.

            “Aku bingung.” Rully menekap wajahnya. Sebenarnya ia mempunyai ide, namun takut Adam tidak setuju.

            “Terus, pasanganmu itu… siapa nama anak baru itu? Ardan?...”

            “Adam.” Sahut Rully pelan.

            “Iya, Adam, dia sudah memberikan ide?” tanya Arleta penasaran.

            Rully kembali menggeleng. Kepalanya kini sudah menyentuh meja. Kalau perlu ditaruh di kolong meja agar ia tidak sepusing ini.

            “Kenapa kau tidak menyewa gaun pesta, Ly?”

            “Tidak boleh sewa. Baju ini harus orisinil rancangan sendiri.”

            “Huuffh, pusing,” Fatia mengetuk-ngetuk meja kantin sambil menerawang.

            Tiba-tiba kaki Arleta menendang kaki Rully keras.

            “Aduh! Sakit, tau.”

            Bukannya menjawab, Arleta malah memberikan tanda agar Rully melihat ke belakang punggungnya. Pandangan Rully dan Fatia mengikuti arah dagu Arleta.

            “Hai, Rully, masih ingat aku? Kita belum sempat berkenalan waktu itu. Aku Adam.” Adam mengangsurkan tangannya ke arah Rully.

            “Oh, hai, ya, aku Rully,” Rully menjabat tangan Adam sekilas lalu menariknya kembali. “Kenalkan ini Fatia dan ini Arleta.”

            “Hai, salam kenal.”

            Fatia dan Arneta bengong menatap kegantengan Adam. Tanpa disuruh, Fatia menggeser duduknya memberikan ruang untuk Rully dan Adam berbicara. Namun Adam tetap berdiri di tempatnya.

            “Nanti sepulang sekolah,  aku ingin membahas acara fashion show denganmu.”

            Rully mengangguk.

            “Oke, kalau begitu, aku kembali ke kelas ya.” Adam berjalan meninggalkan kantin dengan iringan banyak pasang mata yang terpana dengan kegantengannya.

***

            Rully duduk dengan pasrah di kursi, wajahnya sedang di make up kembali oleh Arneta. Cuaca yang panas membuat make up-nya luntur terkena keringat. Apalagi gaun yang dikenakannya juga membuat dirinya semakin kegerahan. Arneta telah menyulapnya menjadi putri yang cantik.

“Kau cantik sekali, Rully. Aku yakin kita pasti menang,” kata Adam di sebelahnya.

Wajah Rully bersemu merah. Fatia dan Arneta tersenyum menggoda.

“Huh.. Acaranya hanya dua menit tapi bikin aku meriang seharian,” bisik Rully deg-degan. Fatia menepuk punggung tangan Rully untuk menenangkan.

Acara fashion show ini bertema Pasangan Sejiwa. Selain Rully dan Adam, beberapa pasangan lainnya yang juga ikut berkompetisi di acara fashion Show, sedang mempersiapkan diri. Baju yang mereka kenakan berwarna-warni. Ada yang berpakaian ala kabaret, ala preman lengkap dengan jaket pakunya, ala maling lengkap dengan barang-barang hasil curian, ala bintang hollywood dan ala artis India. Semuanya unik dan tampak serasi.

“Rully, kita siap-siap untuk maju,” ucap Adam ketika lagu yang di nyanyikan Sarah berakhir.

            “Oke,” sahut Rully. Rully mengambil napas panjang dan mengembuskannya

            “Jangan gugup. Senyum saja ke semua orang, pasti gugupmu akan hilang.” bisik Fatia.

            Rully mengangguk pelan.

            Dua menit kemudian MC memanggil nama peserta acara ke atas panggung untuk memamerkan pakaian hasil rancangan mereka. Akhirnya tiba giliran Rully dan Adam untuk naik ke atas panggung. Rully dan Adam berlenggak lenggok di atas panggung ala peragawati terkenal. Gaun yang dijahit semalaman begitu manis dikenakannya. Sepulang sekolah kemarin Rully dan Adam mencarter tukang jahit keliling untuk menjahit baju  mereka berdua hingga malam. Baju kebaya tua Mama yang  dikolaborasi dengan gordain berwarna merah dan kain batik, terlihat begitu indah. Begitu juga jubah yang dikenakan Adam adalah hasil perpaduan kemeja papa yang sudah tidak muat lagi, kain gordain  dan potongan kain batik. Adam terlihat begitu elegan.

Genggaman tangan Adam membuat Rully menjadi santai saat berjalan, berputar dan melangkah kembali ke belakang panggung. Tepuk tangan  penonton begitu meriah. Tiga puluh menit kemudian MC  mengumumkan pemenang acara itu adalah Rully dan Adam. Mereka terpilih menjadi pasangan terbaik dan anak muda yang kreatif.

“Rully, kita menang!”

“Alhamdulillah.” Rully menakupkan kedua tangannya ke wajahnya.

Adam menggenggam tangan Rully dan menariknya ke atas panggung untuk menerima penghargaan dari Pak Kepala Sekolah. Rully begitu terharu. Gaun hasil kolaborasi baju-baju usangnya telah membuatnya menerima penghargaan.

“Usaha memang tidak akan membohongi hasil,” Adam memberikan kedipan mata pada Rully. Rully tersenyum lebar. Dalam hati ia berterimakasih kepada Adam yang telah membantunya menjadi lebih percaya diri.

 

Komentar