Teror di Pos 4
(Bagian kedua)
Dan, di sinilah mereka saat ini, di hutan belantara menuju puncak gunung.
“Istirahatnya cukup, ya, kita jalan lagi!” seru Aldi.
Ia merasa rombongan terlalu sering beristirahat sehingga molor dari jadwal tiba dari satu pos ke pos yang lain sebelum sampai ke puncak. Apalagi saat istirahat makan siang tadi. Abe makan banyak makanan yang membuatnya akhirnya sakit perut dan harus pergi ke sungai untuk membuang hajat.
Dengan kesal mereka merapikan botol-botol minum dan berjalan lagi walaupun kaki terasa sakit dan pegal. Posisi awal yang semula adalah Aldi, Abe, Sarah, Esti, Winda, Ary dan David. Kini posisi berubah. Aldi tetap di depan, di belakangnya ada Winda, Esti, Ary, Sarah, David dan Abe di belakang.
Setelah dua jam mereka berjalan dan empat kali berhenti, tibalah mereka di pos 4. Abe dengan santainya menjatuhkan diri di dekat rumah kayu. Ranselnya ia tinggalkan dua langkah dari tempatnya terduduk. Yang lain pun mengikuti Abe. Winda, Sarah dan Esti langsung tergeletak di dekat ransel Abe. Tubuh mereka sudah penat. Aldi, Ary dan David hanya bersandar ke pohon.
“Kita bermalam di sini saja, ya. Aku capek sekali. Lagipula ini sudah malam.” Ucap Sarah sambil memejamkan mata.
“Iya. Dari tadi kita jalan terus dan nggak sampai-sampai. Ini sudah berjam-jam, loh.”
“Hati-hati dengan kata-katamu barusan.” tegur Aldi.
“Sudahlah, Di, aku bosan dengan peraturan-peraturan yang kau buat.”sahut Winda.
“Ini bukan aku yang buat, tapi…”
“Persetanlah dengan peraturan-peraturanmu. Yang penting aku mau istirahat. Aku mau tidur.”
“Kita akan beristirahat di sini lima belas menit, lalu kita berjalan lagi ke atas. Kita akan camping di Pos 5.” ucap David kesal. Gara-gara keempat orang yang manja itu membuat perjalanan jadi tersendat. “Tinggal dua jam perjalanan lagi kita sampai.”
“Sepertinya aku sudah tidak kuat. Aku capek. Lapar. Mau tidur.”
“Kita tidak boleh nge-camp di sini. Ingat kata penjaga di bawah tadi.”
“Tapi penjaga itu kan tidak melihat kita nge-camp di sini, Ry. Kalau ketahuan nge-camp apa mereka nanti ngasih hukuman untuk kita?”
“Pokoknya kita nggak nge-camp di sini, titik.”
“Terserah. Kami akan tetap istirahat di sini. Kalau kalian mau lanjut jalan, ya, terserah kalian.”
Ary, Aldi dan David saling berpandangan. Sebenarnya ketiganya ingin marah pada tingkah laku kekanak-kanakan Abe, Sarah, Esti dan Winda. Namun mereka juga sadar bahwa keempat temannya itu baru pertama kali naik gunung. Dan kondisi mereka sudah payah. Tidak mungkin kalau dipaksakan naik satu pos lagi.
Dengan menahan kekesalan, akhirnya Aldi, Ary dan David mengikuti ke inginan teman-teman mereka. Walaupun mereka bertiga sudah menduga bakal ada kejadian malam nanti, namun mereka tidak mengucapkannya.
***
Ary dan Aldi membuat tenda agak jauh dari rumah kayu yang bertuliskan pos 4. Sedangkan Abe memilih membuat tenda didekat pos 4. Katanya, biar kalau tiba-tiba hujan, tenda bocor, mereka bisa langsung masuk ke Pos 4. Ary, Aldi dan David tidak mau berdebat. Percuma berdebat dengan orang-orang yang tidak bisa menjaga adab bicara di hutan. Tenda mereka berhadap-hadapan. Di antara kedua tenda itu Ary membuat api unggun kecil untuk menghangatkan badan.
Setelah tenda berdiri kokoh, Esti membantu David memasak makan malam. Ia memasak nasi dan air panas untuk membuat kopi. Lauk rendang yang dibawa Winda masih ada separuh kotak. Lumayan untuk menghemat bahan makanan. Besok pagi barulah ia mengeluarkan bahan makanan yang lainnya. Setelah makan, David meminta Abe membantunya mencuci perabot makan sekaligus mencari air untuk besok pagi.
Winda dan Sarah sudah mengganti bajunya yang basah akibat berkeringat, dengan baju yang kering. Mereka berdua duduk di depan tenda sambil menatap ke pohon-pohon yang berada di belakang tenda Ary.
Winda melihat api unggun yang dibuat Ary di antara dua tenda mereka membuat bayang-bayang yang aneh. Sesekali angin bertiup membuat api meliuk-liuk seperti penari. Ya, penari. Winda melihat ada bayangan seorang perempuan dengan baju kebaya lengkap dengan konde dan selendang warna hijau dengan motif kembang. Perempuan itu menari di antara dahan pohon dengan gemulai. Ia menari dengan musik dari gesekan daun yang tertiup angin.
Winda tercekat. Mana mungkin ada orang yang bisa berdiri di sebuah dahan dan melakukan gerakan seperti halnya seorang penari? Apakah itu adalah halusinasiku? Winda mengerjapkan matanya dan bayangan itu tetap ada. Wajah penari itu yang semula memunduk kini menatap dingin ke arah Winda. Wajahnya yang pucat tiba-tiba menyeringai kepadanya. Mulutnya terbuka lebar dan memperlihatkan giginya yang bertaring. Tangan penari itu berubah menjadi panjang dengan jari-jari yang kurus dan kotor, terjulur ke arah Winda. Seakan ingin mencekiknya.
Winda berteriak sekencang-kencangnya dengan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
“Takut, ya?” bisik mahluk itu di telinganya.
Winda Semakin menjerit ketakutan. Lalu ia mendengar perempuan itu terkikik diatas sana.
Yang lain terkejut dengan teriakan Winda. Mereka mencoba menenangkan Winda, namun Winda terus berteriak-teriak. Sarah yang duduk di sebelah Winda terjungkal karena dorongan tangan Winda yang terasa kuat. Mata Winda melotot marah. Jelas ini bukan Winda yang sebenarnya. Winda telah dirasuki makhluk hutan. Aldi dan Ary mencoba memegang kedua tangan Winda agar tidak meronta-ronta. Ary membacakan doa-doa lalu meniupkannya di telinga kanan dan kiri Winda. Semula Winda tetap meronta dan semakin marah. Namun lantunan doa yang dibacakan Ary dan Aldi membuat rontaannya melemah.
Abe dan David yang baru tiba dari mengambil air, terkejut dengan keadaan Winda. Esti dan Sarah tengah berpelukan sambil menangis ketakutan. Abe meletakkan jerigen air didekat tenda Ary. Begitu juga David. Lalu keduanya berjalan mendekat dengan langkah panjang.
“Kenapa, Ry?” David menunjuk Winda dengan tatapannya.
“Sepertinya Winda kerasukan, Vid.” Ary dan Aldi masih tetap memegang tangan dan kaki Winda.
“Kok bisa?”
Ary mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Toh, tadi ia dan Aldi memang tengah membuat api unggun. Keduanya tidak memperhatikan Winda. David lalu menundukkan kepalanya. Matanya terpejam rapat. Satu tangannya berada di kepala Winda, satu tangannya yang lain menyentuh bumi. Entah apa yang ia rapalkan. Namun tiba-tiba tubuh Winda seperti terangkat naik lalu kembali jatuh terbanting. Untunglah Ary dan Aldi memegangi tubuh Winda dengan erat sehingga tubuh perempuan itu tidak terbanting keras ke tanah. Ary dan aldi memindahkan Winda ke dalam tenda dan menidurkannya. Esti dan sarah menemani Winda sambil memberikan minyak kayu putih ke hidung, tangan dan kaki Winda.
“Oh, my God!” teriak David ketika dilihatnya Abe dengan lentur menari mengelilingi api unggun. Baru saja selesai membuat Winda tidak lagi kerasukan, mahluk itu kini merasuki Abe.
Ary dan Aldi keluar tenda putri dan mencoba menyadarkan Abe. Ketiganya kesusahan memegangi Abe yang tubuhnya lebih besar dari mereka. Namun doa-doa yang secara bersamaan dibacakan ketiganya membuat tubuh Abe melemah. Abe masih meronta-ronta walau tidak sekuat tadi.
“Aku benci mereka! Aku benci mereka! Aku mau mereka menemaniku di sini.” teriak Abe dengan suara perempuan yang melengking.
Aldi, Ary dan David tidak mengacuhkan teriakan-teriakan Abe yang tengah kerasukan. Ketiganya tetap membacakan doa.
“Aku tidak butuh kalian! Aku hanya butuh orang ini! Aku butuh orang ini!”
“Jangan ambil dia! Dia bukan dari golonganmu. Keluar kau dari tubuh teman kami!” ucap David penuh marah.
Abe tertawa terkikik. Suaranya semakin lama melengking.
David menyentuh kepala Abe yang semula berontak dan satu tangannya menyentuh bumi. Ia merapalkan doa-doa, lalu mengambil tanah dan menyiramkan ke tubuh Abe. Serta merta tubuh Abe melemah. Dan tidak meronta lagi. Abe jatuh berdebam di dekat api unggun. David terduduk lemas. Namun ia lega karena mahluk itu sudah keluar dari tubuh Abe.
“Ini akibat mereka tidak menjaga adab di sini. Bicaranya selalu asal, padahal sudah diingatkan berkali-kali.” Kata Aldi sambil terduduk di sebelah tubuh Abe.
“Ini yang aku takutkan dari awal. Mereka meremehkan kekuatan alam.” sambung Ary. Ia menuang air dari jerigen ke kedua tangannya dan mencuci wajahnya.
“Semoga mereka tidak berbuat sombong lagi.” ucap David.
Esti dan Sarah tertunduk. Airmatanya mengalir di pipi. Mereka mengakui karena terlalu sombong ingin menaklukan alam. Winda perlahan membuka matanya. Ia sudah sadar. Begitu juga Abe. Malam itu mereka dipaksa masuk ke tenda dan tidur cepat agar tidak ada hal-hal yang terjadi lagi. Kali ini keempat sekawan yang seharian ini bermain-main dengan melecehkan alam, tidak membantah. Mereka tertidur sambil berpelukan di dalam tenda.
***
Keesokan harinya mereka bangun dengan tubuh yang lebih segar.
“Ary, Aldi, David, aku dan teman-teman minta maaf atas perlakuan buruk kami kemarin. Kami sudah terlalu sombong dan tidak mendengarkan arahan kalian.” Abe membuka percakapan ketika tidak ada satu pun dari Ary, Aldi dan David yang berbicara pada mereka.
“Kalian harus tahu kalau alam pun memiliki tata krama tersendiri. Kita tidak boleh sombong ingin menaklukkan alam. Alam memiliki kekuatan yang kita tidak pernah tahu.”
“Ya, kami sadar. Kami janji tidak akan berlaku kurang sopan lagi. Dan menjaga agar tidak asal bicara lagi.”
“Kita tetap lanjut ke puncak, kan?” tanya Esti takut-takut.
“Kami sudah nggak capek lagi kok. Suwer,” tambah Winda, “ Tapi jalannya pelan-pelan saja, ya.”
Ary, Aldi dan David berpandangan lalu tersenyum.
“Kalau sudah sampai sini, ya harus dilanjutkan sampai puncak. Kalau ada yang tidak sanggup jalan terus, harus tinggal di sini atau turun.” cetus Aldi.
Keempatnya bersorak gembira. Lalu menutup mulut cepat-cepat.
Setelah sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tanpa ada kata-kata kurang sopan dari keempat sekawan itu. Mereka saling bantu untuk melewati jalan berbatu, menanjak maupun curam. Tidak lagi saling membebani ransel kepada satu orang. Mereka bergantian membawa ransel Abe. Tanpa mereka sadari, perjalan menjadi semakin lancar.
Hari sudah mendekati siang ketika mereka akhirnya mencapai puncak. Langit sedikit mendung. Namun masih terlihat matahari dari sela lautan awan. Winda, Sarah, Esti dan Abe menatap kesekeliling dengan takjub.
“Kita sampai puncak!” teriak Esti.
Esti, Sarah dan Abe berteriak kata-kata yang sama seperti yang Esti teriakkan.
Keempatnya berpelukan penuh haru. Tanpa sadar mereka menangis bahagia. Perjalanan yang berat menuju puncak sudah mereka lalui. Penuh dengan cerita suka dan duka. Namun mereka berhasil menjejakkan kaki ke puncak gunung untuk pertama kalinya. Bagi mereka, ini bukanlah tentang menaklukan sebuah gunung. Namun ini adalah perjalanan sebuah kesetiakawanan, kesadaran untuk hidup bersama alam, dan menghormati segala bentuk kehidupan di muka bumi ini. Perjalanan ini membuktikan bahwa mereka telah belajar melawan hawa napsu dan ego masing-masing.
Aldi, Ary dan David menyalami keempatnya dan mengabadikannya dengan kibaran bendera Merah Putih yang di bawa Aldi.
SELESAI

Komentar