Teror di Pos 4
(Bagian Kesatu)
Gb. Freepik
Matahari sudah nyaris doyong ke arah barat. Sinarnya terlihat menerobos dari celah-celah pohon yang lebat. Abe mengehela napas. Tubuhnya sudah mulai lelah. Ranselnya terasa semakin berat di bahu. Ia mengumpat dalam hati karena mau saja dibodohi oleh Winda dan Sarah yang menitipkan sebagian barang-barangnya di ransel besar miliknya. Sementara kedua temannya itu membawa ransel yang lebih kecil dan ringan.
“Al, kita bisa istirahat dulu nggak? Capek banget nih. Dari subuh kita jalan, kok masih nggak sampe-sampe sih?” Keluh Abe pada Aldi yang berjalan di belakangnya.
“Hush! Jaga omongan. Kalau mau istirahat, bilang saja mau istirahat. Nggak usah pakai alasan yang lain. Ingat, ini di gunung, bro.”
“Sorry, lupa.” ucap Abe sedikit kesal. Aldi yang didaulat menjadi leader perjalanan ini, bagi Abe seperti kepala pleton yang siap menyambar prajurit dengan amukannya.
Abe membetulkan letak tali ranselnya. Ia heran mengapa ranselnya semakin berat hingga dua kali lipat dari saat awal mereka berangkat. Mungkin ini juga karena faktor kelelahan yang ia rasakan.
“Kita istirahat dulu sepuluh menit ya, nanti kita lanjut jalan lagi.” teriak Aldi kepada seluruh rombongan yang berjumlah tujuh orang.
Kata-kata Aldi disambut gembira semua anggota. Sebagian mereka duduk di tanah tanpa membersihkan semak dan ranting terlebih dahulu. Sebagian lagi hanya bersandar di pohon-pohon besar didekat mereka. Sarah mengambil botol minumnya dan meneguk hingga setengah botol. Rasanya ia ingin sekali berendam di air yang dingin seperti kolam kecil di rumahnya.
Di saat duduk bersandar di sebuah pohon, Esti merasa ada tangan berjari kurus yang perlahan menyentuh kakinya lalu mencengkeram dengan kuat. Esti terpekik kaget sekaligus kesakitan. Teman-temannya bertanya tanpa berpindah dari duduk.
“Kenapa, Ti?”
Esti tidak dapat berkata-kata. Ia hanya merisingis kesakitan sambil memegang kakinya yang terasa ditarik entah oleh siapa. Aldi yang duduk tak jauh dari Esti mendekatinya dan membacakan doa-doa. Tidak berapa lama cengkeraman di kaki Esti beranjak mengendur lalu hilang. Aldi mengambil botol minum yang belum digunakannya dari sisi ransel. Ia membuka tutup botol dan membacakan doa, setelah itu ia memberikannya ke Esti.
“Nih, minum.”
Esti menerima botol itu dan meminumnya dua teguk.
“Itu tadi apa?”
Aldi menggeleng pelan.
“Gangguan kecil. Jangan melamun, ya.”
Esti menggangguk pelan.
***
Rombongan ini terdiri dari Abe, Aldi, Winda, Sarah, Esti, David dan Ary. Mereka bertujuh adalah mahasiswa di sebuah perguruan swasta ternama di Jakarta. Pergi ke gunung ini adalah usulan yang dicetuskan Winda yang disetujui oleh Sarah, Esti, dan Abe. Namun teman-teman yang lain menolak. Apa salahnya liburan ke gunung? Toh, mereka belum pernah pergi mendaki gunung sebelumnya. Lagipula kalau hanya nongkrong di mal, itu kan sudah biasa.
Setelah mereka berempat berunding, dipilihlah Aldi dan Ary untuk menemani mereka naik gunung. Aldi dan Ary adalah anggota pecinta alam di kampus. Keduanya sudah sering naik gunung sejak SMA. Jadi, setidaknya mereka tidak perlu takut kesasar di gunung, kan?
Saat ke empatnya datang ke basecamp pecinta alam, mereka mendapatkan Aldi dan Ary tengah mengecek peralatan camping. Mulanya Aldi keberatan karena ia tahu Winda, Sarah, Esti dan Abe belum berpengalaman naik gunung. Ia khawatir teman-temannya itu tidak akan sanggup berjalan menanjak di hutan dan medan yang tidak rata. Lagipula keempatnya adalah salah satu kelompok borjuis.
“Ini perjalanan ke gunung, beda sama mal.” Kata Aldi saat itu.
“Taulah. Dulu kita kan pernah camping juga.”
“Kapan?”
“Waktu SMP. Di Bumi Perkemahan Cibubur, sama saja, kan?”
Aldi dan Ary tertawa terpingkal-pingkal.
“Non, ini hutan belantara bukan hotel. Ingat, di sana tidak ada makanan pesan antar, tidak ada penjual makanan junkfood, tidak ada yang berjualan cemilan dan aneka kopi, apalagi wifi. Juga tidak ada ojek. Jalannya pun menanjak, terjal dan kita tidak tahu bakal ketemu apa di sana.”
Winda, Sarah, Esti dan Abe mencebikan bibirnya. Kesal karena dianggap tidak mampu.
“Kau meremehkan kami, ya?” Sarah berkacak pinggang. Alih-alih marah, ia malah terlihat tambah manis. Aldi berdehem.
“Lihat saja nanti siapa yang lebih dulu sampai di puncak.” Ucap Esti tidak mau kalah.
Ary menenangkan mereka semua.
“Sudahlah, nggak usah bertengkar. Kalau kalian tetap ngotot mau naik gunung, kebetulan kami ada rencana akan ke gunung minggu depan. Persiapkan fisik dan perbekalan kalian.”
Winda, Sarah, Abe dan Esti bersorak.
“Karena ini adalah perjalanan pertama kalian, jangan terlalu berekspektasi tinggi untuk sampai ke puncak. Kita akan turun kalau kalian sudah tidak sanggup. Jangan memaksakan fisik kalian. Dan harus sopan selama perjalanan. Karena di hutan banyak mahluk tak kasat mata. Jadi kalian harus menjaga ucapan, jangan asal bicara.” ucap Ary lagi.
Ary lalu memberikan daftar barang yang harus mereka siapkan untuk dibawa ke gunung. Aldi memberitahu mereka bahwa barang-barang tersebut selain makanan dan pakaian, dapat disewa di tempat penyewaan peralatan camping. Lebih baik sewa ketimbang beli. Toh, belum tentu di pakai lagi.
***
(Bersambung)

Komentar