Undangan Merah Muda
Gb Google
Tok… tok..tok…
“Vira, sayang, keluar dulu, Nak. Ada yang antar paket untukmu.” Suara Mama terdengar dari balik pintu.
Paket? Sepertinya aku tidak membeli barang secara online. Vira bangkit dari rebahannya dan keluar kamar.
“Paket apa. Ma? Vira ngga beli barang online.”
“Sudah, dibuka saja dulu.” jawab Mama sambil menunjuk kotak kardus berwarna cokelat di atas meja ruang tamu.
Vira melangkah ke ruang tamu yang berjarak lima meter deari kamarnya, diikuti oleh Mama yang antusias ingin melihat isi paket. Vira duduk di sebelah Papa yang tengah menonton program berita di televisi. Di bagian atas paket tertulis nama Vira Masangsari dan alamat rumah beserta nomor ponselnya. Tetapi tidak tertera nama pengirimnya.
“Penasaran, apa sih isi paketnya.” Mama memandang paket dengan mata menyelidik.
Vira membuka paket dengan bantuan gunting yang telah disiapkan Mama di meja. Begitu Paket terbuka, terihatlah tumpukan kartu undangan berwarna merah muda. Vira terpekik bahagia. Ternyata itu adalah kartu undangan pertunangannya dengan Fahri.
Vira mengambil sebuah kartu dan membacanya dengan cepat. Ia khawatir ada kesalahan dalam redaksinya. Ternyata semuanya sesuai dengan permintaannya. Tanggal, waktu, dan tempat acara telah sesuai. Ya, minggu depan adalah hari bahagia Vira dan Fahri, sebelum Vira terbang ke Jerman untuk mengambil program pendidikan S2nya. Keduanya sudah menjalin hubungan selama tiga tahun, sejak Vira merayakan kelulusan S1nya. Vira mengenal Fahri setelah laki-laki itu pulang dari kerja dinasnya sebagai Dokter di daerah terpencil. Fahri adalah kakak dari Febri, teman satu jurusannya.
“Kartu undangan pertunanganku sudah jadi, Ma, Pa. Tinggal di tempel stiker nama-nama yang kita undang, lalu kirim pakai ekspedisi.”
“Wah, bagus sekali undangannya, ya. Cepat juga jadinya.” Mama mengamati bagian depan kartu undangan yang menggambarkan seorang perempuan yang bahagia sedang menggenggam sebuah balon berbentuk hati berwarna merah, sambil bergandengan tangan dengan seorang pria.
Papa ikut memperhatikan undangan yang dipegang Vira, lalu mengangguk tanda setuju dengan yang dikatakan Mama.
“Kartu undangan ini termasuk untuk Fahri? Kalau begitu kau harus segera memberikannya.”
“Iya, Ma. Kebetulan sore ini aku janjian dengan Ema dan Sita. Sepulangnya dari sana aku akan memberikan sebagian kartu ini ke Fahri, sekalian untuk Ema dan Sita.”
Vira menghitung semua kartu, lalu membaginya menjadi dua tumpukan.
***
Vira menekan nomor telepon Fahri di ponselnya. Ada nada terhubung, namun setelah beberapa saat kemudian sambungan teleponnya malah mati. Mungkin Fahri sedang istirahat dan tidak bisa di ganggu. Bukankah kemarin malam ia sibuk mengoperasi pasiennya hingga berjam-jam lamanya? Akhirnya Vira memutuskan untuk menuliskan pesan ingin bertemu dengan Fahri nanti malam.
Vira memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Diliriknya dua buah kartu undangan merah muda di kursi sebelah kirinya. Sementara tas berwarna merah marun yang berisi seratus kartu undangan merah muda berada di kursi belakang. Vira tersenyum. Pasti Ema dan Sita tidak menyangka kalau minggu depan ia akan bertunangan dengan Fahri. Vira membayangkan bagaimana terkejutnya kedua sahabatnya nanti. Vira tersenyum lebar.
Vira memarkirkan mobilnya dibawah sebuah pohon Bougenville merah dan kuning yang rimbun. Memang agak disebelah pojok, dan mobil kecilnya tertutup oleh sebuah mobil van besar berwarna hitam. Mobilnya seperti tersembunyi.
Kafe ini memang menonjolkkan bunga Bougenville berwarna-warni sesuai dengan namanya. Vira kerap datang ke kafe ini hanya sekadar menikmati kopi dan sepotong roti bakarnya yang enak, atau hanya mendengarkan musik sambil mengerjakan laporan. Semua pramusaji di sana sudah mengenal baik dirinya. Mila, Dewi, Dinda, Ari, Nanda, Dolly, dan Dendy, pemilik kafe Bougenville. Mereka semua sudah tahu makanan dan minuman favorit Vira, bahkan meja sebelah pojok kaca dengan pemandangan bunga Bougenvile berwarna oranye yang cantik. Untuk pertama kalinya, Vira mengajak kedua sahabatnya untuk bertemu di kafe ini.
Vira mengambil dua buah undangan merah muda dan tas kulit bertuliskan merk terkenal dari kursi sebelah kiri. Tidak lupa Vira mengambil topi lebar yang terbuat dari anyaman, dan mengenakannya. Setelah memastikan semua pintu terkunci, Vira melangkah memasuki kafe dari pintu samping. Dilihatnya berkeliling, semua kursi terisi penuh pengunjung. Sosok Ema dan Sita pun juga belum terlihat.
“Selamat sore, Mbak Vira.”
“Sore, Mil.” Vira tersenyum ke arah Mila yang menyambutnya dengan wajah riang walau terlihat lelah. “Pengunjungnya ramai juga sore ini, ya?”
“Iya, Mbak, Alhamdulillah. Di balkon atas masih ada tempat, Mbak. Mari saya antar ke atas.”
Mila membawa Vira menuju balkon atas melalui tangga batu yang dihiasi dengan uliran bunga plastik dan lukisan-lukisan bunga. Sampai di balkon yang lumayan luas beratap tinggi, Mila memberikan tempat dengan empat kursi dan pembatas dari kayu yang dibentuk seperti jendela yang dililit batang pohon berdaun rimbun. Sehingga meja di sebelah-sebelahnya tidak mengganggu meja yang lain. Di beberapa tempat di taruh vas putih besar dengan bunga Bougenville aneka warna.
Di beberapa meja sudah terisi pengunjung. Untungnya tempat favorit Vira masih kosong. Vira senang duduk di balkon karena pemandangannya yang bagus. Bisa menatap langit sore dengan warna ke emasannya.
“Mau pesan yang seperti biasa, Mbak? Es kopi dan roti bakar isi telur dan sei sapi, juga salad?”
Vira menangguk.
“Baik, Mbak, saya siapkan dulu pesanannya.”
“Makasih, ya, Mil.”
Mila meninggalkan Vira. Vira menaruh tas dan dua buah kartu undangan di meja. Diambilnya ponsel dari dalam tas, dan memasang earphone, lalu menyetel lagu kesenangannya. Sengaja Vira tidak memberi tahu Ema dan Sita kalau ia telah tiba di Kafe Bougenville. Toh, Vira sudah menuliskan waktu pertemuan mereka pada pesan yang dikirimkan ke Ema dan Sita. Dan itu berarti masih satu jam lagi.
Tidak lama kemudian Mila datang kembali dengan baki berisi segelas besar es kopi, piring roti bakar dan semangkuk salad.
“Silakan dinikmati, Mbak. Kalau perlu saya atau ada tambahan menu, tinggal pencet bel saja.” Mila mengucapkan kata-kata yang selalu diucapkan semua pramusaji di sini, sambil menunjuk sebuah bel yang terletak di pinggir meja.
Vira kembali mengucapkan terimakasih pada Mila, dan pramusaji itu meninggalkannya setelah mengangguk ramah.
Vira mengaduk gelas kopinya dan menyeruput perlahan. Rasa kopi yang segar dan manis memenuhi mulut dan tenggorokannya. Lalu ia mulai memotong roti bakar menjadi potongan yang lebih kecil dan memakannya.
Tiba-tiba ia mendengar suara-suara yang dikenalnya disaat playlistnya terjeda. Vira melirik ke arah asal suara. Ternyata ada di sebelah mejanya yang tertutup partisi dan uliran tanaman plastik. Vira melihat dua sahabatnya, Ema dan Sita sedang duduk berhadapan. Dilihat dari piring kentang goreng dan minuman yang nyaris habis, keduanya sudah dari tadi tiba di kafe sebelum dirinya. Namun entah kenapa keduanya tidak memberitahukan kedatangan mereka pada Vira.
Karena Vira penasaran dengan sikap sahabatnya yang tidak segera memberitahunya kalau sudah tiba, kafe, ia mendekatkan tubuhnya ke dekat partisi. Vira mematikan playlist dan melepaskan earphonenya. Agar tidak ketahuan, Vira sedikit menurunkan topi lebarnya untuk menutupi wajahnya.
“Lo tega, Ta. Gue kira lo enggak punya perasaan spesial gituh, taunya...?”
“Awalnya juga gue nggak punya perasaan gituh. Biasa ajah. Ya, semuanya terjadi begitu ajah. Nggak disangka-sangka, ternyata kita malah jadi punya perasaan yang sama.”
“Terus, gimana lo ngomong ke pacar lo, kalau lo hamil anak dia? Apa dia bakal mau ngawinin lo?”
Vira menutup mulutnya agar tidak berteriak karena terkejut. Hamil? Sita hamil? Siapa yang menghamilinya? Bukannya Sita sudah putus dengan Aldo enam bulan yang lalu?
“Gue enggak tau, Ma. Tapi dia harus ngawinin gue secepatnya. Perut gue semakin besar. Gue enggak mau bayi gue lahir tanpa ayah.”
“Lo juga yang salah! Udah tau belum nikah, kok malah bikin anak!”
“Gue tau gue salah. Tapi kan dia tetep harus tanggung jawab.”
“Lo udah ngomong ke dia?”
“Udah. Semalem.”
“Terus?”
“Dia diem ajah. Gue tau, dia juga bingung mau jawab apa. Tapi dia tetap harus bikin keputusan.”
“Lo udah kasih tau … Vira?” Suara Ema terdengar pelan.
Jantung Vira tiba-tiba berdegub kencang. Ema tidak pernah memberitahunya siapa laki-laki yang tengah dekat dengannya setelah putus dari Aldo. Tidak ada jawaban. Vira merasa kalau Ema menjawab dengan menggeleng.
“Lo yakin Vira bakal terima kalau lo nikah sama dia?”
“Justru itu gue ngajak lo ketemu biar bisa nenangin Vira. Lo tau kan, Vira seringkali histeris dan meledak-ledak?”
Vira tercekat. Mengapa kedua sahabatnya itu jadi membicarakan dirinya? Buru-buru ia meneguk minumannya sebelum ia terbatuk-batuk. Vira semakin mendekatkan kepalanya ke partisi agar tidak ada perbincangan dari keduanya yang tertinggal.
“Gue enggak janji, ya, Ta. Lo tau, kan, Vira masih sering curiga kalau gue ngomongin tentang Fahri?”
Fahri? Kenapa sekarang tentang Fahri? Apakah yang mereka bicarakan adalah Fahriku? Vira mengernyitkan keningnya.
Memang, dulu, sebelum Vira jadian dengan Fahri, Ema sempat menyatakan kepada Vira dan Sita, kalau ia naksir berat pada Fahri. Tapi sahabatnya itu mundur teratur begitu Fahri menjatuhkan pilihan ke Vira, dan mereka tetap bersahabat. Mulanya Vira merasa tidak enak dengan sahabatnya ini, namun ternyata sikap Ema juga tidak berubah, tetap seperti Ema seperti sebelumnya. Pun ketika Fahri ikut acara kumpul-kumpul bersama Vira, Ema, dan Sita. Itu yang membuat Vira tidak khawatir dengan persahabatan mereka.
Sebelum keduanya berkata-kata, ponsel Ema bordering.
“Fahri telepon. Sssttt… “
Vira buru-buru menekap mulutnya. Perutnya tiba-tiba terasa mual.
Terdengar Ema menjawab panggilan telepon. Entah, apa yang Ema dan ‘Fahri’ bicarakan. Karena yang terdengar hanyalah suara Ema yang berkata dengan manja, “Iya… Aku takut… Sungguh?... Enggak bohong, kan? … bener, ya…. Aku beneran takut, Sayang, Mama sudah mulai curiga juga dengan perutku… Oke, aku tunggu. Byee.”
Sita menaruh kembali ponselnya di mejanya.
“Apa kata Fahri?” tanya Ema tidak sabar.
“Dia mau bicara sama Vira.” jawab Sita terdengar bahagia.
“Terus?”
“Besok Fahri dan keluarganya akan datang kerumahku.”
“Jadi, Fahri…?”
“Iya, Fahri mau memutuskan hubungannya dengan Vira dan memilih menikah denganku.”
“Lucu juga kedengarannya. Aku yang naksir duluan, eh, Fahri milih pacaran sama Vira. Tau-taunya, malah dia menghamilimu.”
Ema dan Sita terdengar mengikik geli.
Kali ini Vira benar-benar mual hingga terbatuk-batuk. Kepalanya mulai pusing. Di saat yang bersamaan, ponselnya bergetar dan ada pesan dari Fahri.
[Vira, maaf, aku tidak bisa meneruskan pertunangan kita. Aku akan ke rumahmu malam ini untuk bertemu denganmu dan kedua orang tuamu. Aku akan jelaskan semuanya. Maafkan aku.]
Brugh!!!
Vira tergeletak pingsan.
Komentar