Bahagia yang Lain

 

                                                                                                                    Gb. Freepik

                 Mayang keluar dari mini market dengan menenteng sebuah bungkusan dan secangkir kopi di tangan lainnya. Seorang anak laki-laki dengan senyum yang memamerkan giginya yang ompong, membuat Mayang menghentikan langkahnya.

                “Sedekahnya, Bu, untuk anak yatim piatu.” Tangan kurusnya menjulurkan sebuah map kumal  berwarna biru.

                Mayang mengernyitkan hidungnya. Ia paling benci ditodong dengan modus sedekah. Pandangannya menelanjangi anak itu. Matanya menyensor dari atas kepala sampai ke kakinya. Seakan-akan ia ingin melihat kebohongan di sana.

                “Kamu nggak sekolah?”

                “Nggak, Bu. Saya ikut belajar bersama di Panti. Ibu Panti sudah nggak punya uang untuk menyekolahkan kami.”

                “Kamu d suruh Ibu Panti untuk mencari uang seperti ini?”

                “Nggak, Bu. Saya hanya mau membantu Ibu Panti. Kasihan Ibu Panti sudah tua dan nggak bisa kerja lagi.”

                Tiba-tiba Mayang ingin menyelidiki anak laki-laki yang memakai kaos berwarna hitam yang kebesaran dan celana panjang berwarna coklat. Rambutnya yang hitam di tutupi sebuah peci hitam kecoklatan. Usia anak ini sekitar 6-7 tahun. Masih terlalu kecil untuk mencari dana bagi kelangsungan sebuah Panti Asuhan. Sekilas  Mayang membaca sebuah alamat di bawah nama Panti Asuhan Anak-anak Bintang pada map kusam itu.

                “Rumah Pantinya di mana?”

                “Di jalan Merpati IV, gang Buntu nomor 25, Bu. Itu, di seberang jalan, masuk ke jalan kecil, belok ke kanan,  rumah pantinya ada di sebelah kiri.”

                Mayang mengangguk pelan, menandakan alamat yang disebutkan anak itu sesuai dengan yang tertulis di depan map. Tanpa bicara ia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari dompet bermerk, dan memberikannya ke anak laki-laki yang masih saja menunggunya dengan setia.

                “Alhamdulillah, makasih, Bu. Semoga Ibu selalu diberikan kesehatan.”

                “Aamiin.” bisik Mayang pelan. “Siapa namamu?”

                “Nama saya Aryo, Bu.”

                “Orangtuamu masih ada? Kerabat atau saudara?”

                Aryo menggeleng.

                “Kata Ibu Panti, waktu saya masih bayi, orangtua saya meninggal saat kebakaran di kampung. Mereka tidak bisa diselamatkan. Tapi saya bisa diselamatkan oleh tetangga saya dan diserahkan ke Ibu Panti untuk dirawat.” Barisan gigi ompongnya kembali dipamerkan. Aryo tampak ringan mengucapkan cerita sedih itu. Seakan-akan ia ingin memperlihatkan bahwa kesedihan  tidak  akan membuat kedua orangtuanya kembali hidup.

                Hati mayang berdesir. Anak sekecil ini harus menanggung hidup yang seberat ini. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

                “Kalau Ibu ada waktu, Ibu bisa main ke rumah Panti. Nanti Ibu bisa bertemu Ibu Panti yang baik. Kalau Ibu takut nyasar, Ibu bisa ketemu saya di sini.”

                Mayang tersenyum kecil dan mengangguk.

                “Ibu pergi dulu, ya, karena Ibu harus kerja.”

                “Hati-hati, Bu.”

                Tangan kecil Aryo melambai saat mobil yang dikendarai Mayang meninggalkan halaman parkir mini market.

***

 

                Mayang menutup map-map yang terbuka di mejanya dan menaruhnya di bagian pojok, agar Alisa, sekretarisnya, bisa mengambilnya dan memberikan ke divisi masing-masing. Disandarkannya punggungnya ke kursi empuknya. Ia merasa lelah setelah meeting seharian ditambah mengecek dokumen-dokumen sebelum menandatanganinya.

                Diliiriknya kalendar meja yang beberapa tanggalnya dilingkari dengan pena warna  warna biru. Di bagian bawah tanggal yang dilingkari tertulis acara yang harus Mayang ikuti. Matanya tertumbuk pada sebuah tanggal yang diberikan tanda bintang. Tanggal 4 Juni yang berarti adalah hari ulang tahunnya. Mayang menutup matanya dengan kedua tangannya. Kesibukannya di kantor membuatnya lupa akan tanggal ulang tahunnya.

                Pandangan Mayang bergeser ke arah laptopnya yang masih menampilkan laporan kerja. Digerakkannya kursor mencari layan internet untuk restoran di sekitar kantor. Ia ingin memberikan acara makan siang di sebuah resto bersama para karyawannya. Ya, pastinya karyawannya telah membuat acara ultah kejutan untuknya seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan acara itu berakhir dengan acara makan bersama di restoran terdekat atau di kantor dengan menu katering spesial.

                Akhirnya Mayang menentukan sebuah restoran untuk acara makan siang besok.

***

 

Seperti biasa, sebelum ke kantor pagi itu Mayang menyempatkan mampir ke  mini market untuk membeli kopi dan roti lapis untuk sarapan. Sebelum masuk ke mini market, Mayang melihat sosok anak kecil yang beberapa hari lalu menyodorkan map kumal. Aryo, tengah mengobrol dengan tukang parkir. Tampak Aryo tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dari tukang parkir. Suara bocahnya sangat menyentuh hati Mayang. Mayang ingin sekali mendekati keduanya dan ikut bercerita. Namun itu akan membuat canggung tukang parkir dan pandangan aneh dari orang-orang.

Akhirnya Mayang melanjutkan masuk ke dalam mini market untuk membeli sarapannya.

.

 

***

Mayang sudah dua kali bolak-balik ke luar-masuk ruangannya. Tetapi tidak ada tanda-tanda pesta kejutan dari karyawannya. Ia berpikir, apakah pesta kejutannya mereka simpan sampai sore hari? Dengan sedikit kecewa Mayang masuk kembali ke ruangannya dan terduduk lemas.

 Ini adalah ulang tahunnya yang ke 33 tahun. Namun, tidak ada seorang pun yang memberikan ucapan untuknya. Tidak kedua orang tuanya, Mas Tommy suaminya, Kak Adela atau pun Mas Teja, kedua kakaknya. Mayang melirik ke layar ponselnya, sudah pukul sebelas siang. Sebentar lagi waktu makan siang tiba.  Mayang menjadi galau untuk merayakan ulang tahunnya bersama karyawannya yang tampak tidak peduli.

Tiba-tiba ia teringat dengan Aryo dan cerita Panti Asuhan tempat Aryo tinggal. Panti Asuhan Anak-anak Bintang, kalau tidak salah. Ya, Mayang ingin mendapatkan kebahagiaan yang lain di hari ulang tahunnya. Ia ingin berbahagia bersama Aryo dan  anak-anak panti. Pastinya senyum dan ucapan terimakasih dari mereka lebih tulus dan bermakna.

Dengan cepat Mayang memencet nomor restoran tempat ia memesan makanan untuk acara siang nanti. Sekitar lima menit ia  bernegosiasi dengan manajer restoran, hingga akhirnya permintaan Mayang mereka setujui. Mayang tidak jadi memesan ruangan untuk makan siang. Namun ia ingin memesan beberapa boks makanan  yang akan ia bawa ke Panti Asuhan Anak-anak Bintang.

Dengan senyum lebar penuh kemenangan, Mayang memasukkan ponsel ke dalam tas bermerknya lalu melangkah ke luar ruangan.

“Alisa, saya keluar kantor sampai sore. Dokumen yang perlu di tandatangani taruh di meja saya.”

“Baik, Bu Mayang.” Sahut Alisa gugup.

Karyawannya mulai berbisik-bisik saat Mayang keluar kantor.

 

Selesai.

 

Komentar