Suara-suara Dari Rumah Sebelah
“Plak!”
“Aduh… Sakit, Pak…”
“Prangg!!”
Windu menutup kedua kupingnya dengan bantal. Suara-suara kencang di sebelah rumah kontrakannya ini memang sering terjadi. Apalagi kalau Pak Tanto pulang ke rumah, pasti ada saja keributan. Entah apa yang membuat Mbak Yuni masih juga bertahan dengan kelakuan Pak Tanto yang kasar dan seringkali pulang dalam keadaan mabuk itu? Padahal bukan hanya sekali Mbak Yuni dipukuli seperti ini.
Bahkan Pak RT sudah beberapa kali menegur Pak Tanto yang membuat wajah Mbak Yuni yang bekerja sebagai buruh cuci, memar kebiruan. Juga, sudah mengancam akan melaporkan ke pihak yang berwajib karena KDRT yang ia lakukan, namun tidak membuat Pak Tanto surut. Malah dengan pongahnya ia berkata, “Urus saja keluargamu sendir! Nggak usah sok-sokan ngurusin keluarga orang lain!”
Brakk! Pintu kayu yang penuh tambalan sana sini itu ditendang hingga tertutup. Suara-suara keras kemarahan itu kembali terdengar dari dalam rumah. Walaupun kesal, Pak RT membubarkan kerumunan warga. Sebagai pemimpin, ia menawarkan perlindungan terhadap Mbak Yuni, namun di tolak.
Windu mengencangkan volume musik di earphone-nya agar tidak mendengar keributan di sebelah rumah kontrakannya yang dibatasi oleh separuh tembok, separuh triplek.
***
Keesokan harinya, ketika Windu yang bekerja sebagai SPG di sebuah minimarket, berpapasan dengan Mbak Yuni yang sedang menuju rumah Ibu Mardani. Wajahnya sembab bekas menangis. Untuk menutupi pipinya yang biru karena tamparan Pak Tanto, ia mengenakan kerudung kusam warna hijau tua. Windu melemparkan senyum. Mbak Yuni membalasnya dengan canggung lalu buru-buru berbelok, seakan menghindarinya.
***
Dua hari berikutnya, Windu mendapati Pak Tanto yang pulang pagi dengan keadaan mabuk. Mbak Yuni yang sedang menyapu teras depan, sontak membantu Pak Tanto yang nyaris jatuh menabrak pot milik tetangga. Namun bukannya berterimakasih, Pak Tanto malah menepis tangan Mbak Yuni dengan kasar. Alhasil mereka berdua terjatuh dengan menimbulkan suara yang keras.
Mbak Yuni segera bangkit dari jatuhnya dan langsung masuk ke dalam rumah. Walau pun merasakan sakit di bagian panggulnya, Mbak Yuni tidak mau berlama-lama menjadi tontonan tetangga. Airmatanya turun perlahan, sementara Pak Tanto berteriak-teriak mencaci Mbak Yuni. Tak ada tetangga yang membantu Pak Tanto untuk berdiri. Mereka sudah sebal dengan kelakuan kasarnya.
Windu menahan napas. Sebenarnya ia tidak ingin melihat kejadian itu. Ia tidak tega melihat Mbak Yuni kerap menjadi bulan-bulanan suaminya. Namun apa daya, Mbak Yuni masih belum mau diselamatkan oleh warga. Sehingga bekas-bekas kekerasan Pak Tanto hanya menjadi tontonan semata.
***
Malamnya, di antara mimpi malamnya, Windu mendengar ada suara gaduh di sebelah. Ada teriakan-teriakan dan pukulan. Tapi ia tidak mendengar ada tangisan. Sekilas ia mendengar Mbak Yuni memaki dengan suara keras. Setelah itu Windu tidak lagi mendengar apa-apa.
***
Malam berikutnya, Windu merasa aneh. Ia tidak mendengar pintu di tendang, suara pukulan atau pun suara tangisan. Rasanya malam itu damai sekali. Windu bisa tidur lebih pulas. Ia memang butuh tidur karena selama tiga hari berturut-turut ia bekerja lembur. Toko tempatnya bekerja sedang mengadakan promosi akhir tahun, semua karyawan dikerahkan untuk acara tersebut.
Paginya, Windu kembali merebahkan tubuhnya di kasur setelah salat subuh. Ia masih ingin menikmati meluruskan punggungnya yang semalam terasa pegal. Dicobanya untuk memejamkan mata kembali. Hari ini ia masuk shift siang. Jadi ia masih punya banyak waktu untuk bermalas-malasan di kasus kapuknya yang nyaman.
Tiba-tiba mata Windu terbuka lebar. Ia mendengar ada orang bersenandung. Ia juga mencium bau masakan yang membuat perutnya berteriak minta diisi. Ia kembali mendengarkan dengan seksama, siapa perempuan yang tengah bersenandung itu? Mbak Yuni, mungkinkah?
Windu bangkit dari tidur, lalu mengintip ke pintu belakang. Dari sela jendela dapur, Windu mengintip pergerakan di bagian belakang umah kontrakannya. Benar saja ia melihat Mbak Yuni sedang bersenandung sambil mencuci perabotan dapur. Sesekali ia masuk ke dalam rumah untuk mengecek masakannya.
Kening Windu berkerenyit, heran. Namun ia tidak mau mengganggu kebahagiaan Mbak Yuni. Ia kembali masuk ke kamar sempitnya dan kembali berbaring di kasurnya yang nyaman.
***
Malamnya Windu kembali merasakan ketenangan. Ia tidak mendapati Pak Tanto yang pulang dengan keadaan mabuk dan bau minuman keras. Mbak Yuni pun tidak terdengar sedang menangis. Ia sepertinya sedang menonton tv sambil menyetrika karena tercium bau pewanginya.
Windu Masuk ke dalam rumah dan kembali mengunci pintu. Ia hanya memberikan sedikit anggukan ke arah rumah tetangga depan rumahnya yang melambaikan tangannya agar mendekat. Beberapa ibu-ibu memang sedang berkumpul. Tidak apa disebut tidak mau bersosialisasi oleh beberapa tetangga kontrakannya. Tubuhnya memerlukan istirahat setelah seharian bekerja.
Namun saat Windu tengah menyantap makan malamnya yang ia beli dari warteg di ujung gang, ia mencium bau tidak sedap. Seperti bau bangkai. Buru-buru ia menyelesaikan makan malamnya lalu ia mulai mencari apakah ada bangkai tikus di dalam kontrakannya. Namun ia tidak menemukannya. Akhirnya ia menyemprot pewangi ruangan untuk mengurangi bau tidak sedap itu
***
“Selamat pagi,
Mbak. Lagi ngejemur?” tanya Windu.
“Eh, iya, Mbak
Windu. Mau berangkat kerja?” jawab Mbak Yuni.
“Iya,” Windu tetap memberikan senyum yang manis, “Sepertinya lagi senang ya, Mbak? Saya nggak dengar Mbak di pukul lagi sama Pak Tanto. Saya juga nggak ngeliat Pak Tanto beberapa hari ini. Pak Tanto kemana, Mbak?”
Mbak Yuni terkesiap. Ia tidak menyangka Windu akan bertanya seperti itu.
“Biasa, Mbak Windu. Mas Tanto memang sering nggak pulang,” jawab Mbak Yuni dengan senyum canggung.
“ Oh begitu. Mbak, saya mau nanya, apa ada bau bangkai di tempat Mbak? Semalam saya cari kalau ada bangkai di rumah saya, ternyata nggak ada. ”
Mbak Yuni menatap Windu dengan bibir terbuka lebar. Tiga detik kemudian ia mencoba untuk kembali bersikap biasa.
“Mungkin ada di genteng, Mbak. Nanti kalau ada Pak Mus tukang sampah, saya minta lihat ke genteng deh.”
“Makasih kalau begitu, Mbak. Saya berangkat kerja dulu.”
Windu melangkah meninggalkan Mbak Yuni yang masih terpana. Mbak Yuni meninggalkan ember cucian dengan beberapa baju yang belum di jemur. Ia segera masuk kedalam rumah dengan panik. Ia tampak membungkus sesuatu dengan tas plastik besar, membuntal ulang dengan kertas Koran, lalu membungkus dengan tas plastik degan menumpahkan sampah dapur ke atasnya. Ia lalu mengganti bajunya dengan baju jelek yang penuh lubang. Baju yang dulu kerap ia pakai untuk memulung sebelum akhirnya ia bekerja sebagai buruh cuci. Ditaruhnya bungkusan plastik ke dalam keranjang bambu dan ditutupi dengan karung agar tidak ada orang yang curiga. Lalu menggendong keranjang bambu di punggungnya.
Dengan pelan, ia mengunci pintu rumah, dan berjalan cepat menuju tempat pembuangan sampah.
Selesai

Komentar