Hera dan Ciput, si Anak Kucing
Setelah membetulkan tas selempangnya, Hera melangkah ke teras. Mengambil motor dan menyalakannya. Tanpa menunggu lama, Hera langsung melaju menuju kampus. pagi ini ia harus bertemu dengan Ibu Farida, dosen pembimbing skripsinya. Hera tidak boleh terlambat menemui Dosen yang tetap cantik walaupun usianya sudah melewati enam puluh tahun ini. Ibu Farida terkenal dengan sebutan Dosen yang susah senyum. Maka dari itu Hera tidak ingin mendapatkan omelan panjangnya.
Beruntung jalan raya pagi ini tidak macet. Hera tiba di parkiran kampus pukul Sembilan lewat dua puluh menit. Padahal ia harus bertemu dengan Bu Farida Pukul delapan tiga puluh sebelum beliau masuk kelas untuk mengajar. Dengan berlari-lari, Hera menuju ruang Bu Farida. Setelah mengatur napas dan menyeka keringatnya, Hera mengetuk pintu warna coklat tua di depannya. Tapi setelah ditunggu selama tiga menit, pintu itu tetap tidak terbuka.
“Mau ketemu Ibu Farida, ya? Sudah janjian?”
Hera menoleh ke belakang. Seorang pria paruh baya tengah tersenyum. Pak Wasto.
“Iya, Pak Wasto.”
“Hari ini Bu Farida tidak masuk. Coba dicek di ponselmu, siapa tahu Bu Farida sudah kirim jadwal ketemu lagi.”
Hera mengangguk, lalu mengambil ponsel yang di selipkan ke dalam tasnya. Begitu membuka perpesanan, Hera melihat ada pesan dari Ibu Farida yang menjadwal ulang pertemuan mereka.
“Bu Farida menjadwal ulang ketemuannya, Pak.”
“Lain kali, cek dulu ponselmu sebelum datang.”
Pak Wasto meninggalkan Hera menuju kelasnya. Semester ini ia bertugas mengajar pagi untuk mahasiswa semester tiga. Hera mengangguk pelan. Memang salahnya pagi tadi ia tidak mengecek ponselnya. Ia hanya ingat jadwal temunya dengan dosen pembimbing.
Dengan lunglai Hera melangkah ke parkiran. Lebih baik ia pulang untuk menyelesaikan skripsinya.
Di perjalanan pulang, Hera melihat ada seekor kucing berwarna putih yang terus mengeong. Sebagian bulunya terkena lumpur. Tubuh kecilnya bergetar. Kasihan, mungkin kucing itu ketakutan dan kelaparan, bisik Hera.
Hera memarkir motornya di pinggir jalan. Dengan sebuah lap yang diambilnya dari bagasi motor, Hera mengambil anak kucing itu. Sayangnya, ia tidak membawa bekal minuman untuk membasuh lumpur yang menutupi bulu-bulu putih anak kucing. Setelah menggendong dan mencoba menenangkan ketakutan anak kucing, Hera menaruhnya di kantong motor didekat stang. Entah, mengapa tiba-tiba Hera jadi menaruh rasa sayang pada kucing kecil itu. Padahal sebelumnya, ia tidak terlalu peduli dengan semua hewan yang hidup liar.
Sekitar seratus lima puluh meter kemudian, Hera melihat ada papan nama seorang dokter hewan sekaligus menerima jasa titipan hewan. Hera membelokkan motornya dan memarkirnya di tempat yang teduh.
Hera masuk ke klinik hewan dengan disambut bunyi bel tanda ada tamu datang.
“Selamat siang, Mbak, bisa saya bantu?”
“Selamat siang, barusan saya menemukan anak kucing yang sepertinya kedinginan. Bisa minta tolong untuk dibersihkan sekalian dicek kesehatannya, Mbak?”
Perempuan cantik itu menerima anak kucing yang disodorkan Hera.
“Lucu sekali kucingnya. Namanya siapa?”
“Siapa? Saya? Hera.”
Perempuan itu tersenyum.
“Bukan, anak kucing ini.”
Hera tersenyum malu. Dengan sekejap ia mencari nama yang tepat untuk anak kucing yang lucu itu.
“Ciput. Namanya Ciput.” Ujar Hera cepat. Ya, kurasa nama Ciput yang berarti si kecil putih, cukup manis untuk kucing kelcil itu.
“Ciput.. nama yang cantik untuk kucing yang cantik.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar di sebelah Hera. Hera terlonjak kaget. “Maaf, aku mengagetkanmu, ya?”
Hera meringis malu. Ia melihat seorang laki-laki mengenakan kaos hitam dengan jas putih menutupinya. Laki-laki itu mengambil alih anak kucing yang langsung merasa nyaman dalam dekapannya.
“Yuk, aku bersihkan dulu bulu-bulumu.” Laki-laki itu membawa kucing ke sebuah ruangan dan menghilang di balik pintu.
“Mbak Hera, silakan masuk. Dokter Indra akan memeriksa Ciput di dalam.”
“Oh,.. ya.. ya, saya masuk, Mbak.” Sahut Hera gugup. Mungkin karena laki-laki yang disebut Dokter Indra itu.
Hera memasuki ruangan periksa hewan. Ia melihat Dokter Indra sedang memandikan Ciput dengan dengan air hangat dan sabun wangi. Hera mendekat.
“Kenapa Ciput sampai tercebur di lumpur?”
“Entahlah, tadi aku melihatnya sudah menggigil di pinggir jalan sepulang dari kampus.”
“Kampus? Jadi sekarang kau tidak kuliah?”
“Aku tidak ada kelas hari ini. Seharusnya aku bertemu dengan dosen pembimbing untuk pengajuan skripsiku. Tapi ternyata beliau berhalangan datang. Dan aku tidak membuka pesan yang beliau kirim.” ujar Hera panjang. Sedetik kemudian ia merasa malu. Untuk apa ia membicarakan hal ini ke dokter yang baru dikenalnya?
Dokter Indra tersenyum.
“Jadi, Ciput beruntung, ya, ditemukan olehmu?”
Hera tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum tipis.
“Pecinta binatang, ya?”
“Tidak juga,” Hera menggeleng. ”Aku tidak terlalu suka piara binatang. Hanya suka boneka binatang saja.”
“Oh, begitu?” Wajah Dokter Indra terlihat kecewa. Ia menyeka tubuh Ciput dengan handuk agar tubuhnya segera kering.
“Lagipula, di kostku tidak boleh ada binatang piaraan.” sahut Hera mencoba menetralisir suasana.
“Kalau kau mau, Ciput bisa dititipkan di sini. Atau bisa juga aku carikan orang untuk mengadopsinya.”
“Tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak,” Dokter Indra menunjukan kartu namanya. Di situ tertera kalau klinik ini memberikan jasa titip hewan.
Hera tersenyum malu. Padahal tadi ia sudah membaca di papan di depan klinik.
Dokter Indra memeriksa kesehatan Ciput.
“Ciput cukup sehat. Hanya dia kelaparan saja.”
Dokter Indra memanggil asistennya untuk memberikan susu dan makanan khusus bayi kucing pada Ciput. Asistennya dengan sigap menuang susu kedalam wadah untuk susu dan satu wadah lagi di isi makanan untuk bayi kucing, yang bentuknya halus. Dengan cepat Ciput menjilati susu dengan cepat. Kelihatan sekali kalau Ciput memang kelaparan.
“Terimakasih, Dok. Ciput sudah tidak kelaparan dan kedinginan lagi,” kata Hera setelah Ciput selesai makan dan kini tidur sambil memeluk bola kecil yang diberikan Dokter Indra.”Berapa biayanya, Dok?”
“Silakan ke meja kasir di depan.”
Hera melangkah ke meja kasir setelah sebelumnya mengelus kepala Ciput yang tidur meringkuk.
“Berapa, Mbak?”
“Seratus lima puluh ribu Rupiah, Mbak.”
Hera mengambil dompetnya dan melihat isi dompetnya. Hanya tersisa tujuh puluh lima ribu Rupiah. Ia belum mengambil uang kiriman dari orangtuanya di ATM. Sepulangnya dari sini, Hera akan mampir untuk mengambil uang. Di berikannya selembar lima puluh ribuan ke kasir. Sisanya untuk biaya makan siang nanti, pikir Hera.
“Mbak, maaf, ya, saya belum ambil uang, boleh saya taruh kartu mahasiswa saya? Besok saya kemari lagi untuk membayar kekurangannya.”
Mbak penjaga kasir memandang Hera dan kartu mahasiswa yang disodorkan Hera di depannya. Semula ia ragu, namun ketika dilihatnya Dokter Indra memberikan tanda, ia menerimanya.
“Tapi benar, ya, Mbak, besok datang melunasi sisanya.”
“Pasti saya datang, Mbak. Itu kan kartu mahasiswa saya. Saya masih terdaftar menjadi mahasiswi di kampus itu.”
Setelah memberikan nomor ponsel dan alamat kostnya, Hera meninggalkan klinik hewan itu.
***
Hera memarkir motornya di halaman klinik. Ia mendekat ke pintu klinik dan mendapati pintu yang masih terkunci. Sudah pukul sepuluh, tapi pintu klinik masih tertutup. Hera harus segera bertemu dengan mbak penjaga kasir kemarin untuk membayar sisa kekurangan pembayaran perawatan Ciput dan mengambil kartu mahasiswanya. Hari ini dosen pembimbingnya ingin bertemu untuk mendiskusikan skripsi yang sedang dibuat Hera. Ibu Farida mengirimkan pesan mendadak. Dosen nyentrik itu meluangkan waktu makan siangnya untuk bertemu Hera. Hera tidak mau kehilangan peluang ini. Dengan segera ia mampir ke klinik untuk mengambil kartu mahasiswanya. Ibu Farida tidak akan menerima mahasiswa tanpa tanda pengenal lengkap dengan jas biru almamaternya.
Hera memilih duduk di tangga dekat pintu masuk klinik. Agar siapa pun yang datang nantinya akan melihat dirinya disana. Sepuluh menit menunggu, sebuah mobil memasuki area parkir dan berhenti. Dokter Indra turun dari mobil sebelah kanan. Dan dari sebelah kiri turun seorang ibu dengan pakaian rapi. Ibu yang sangat dikenalnya. Ibu Farida, dosen nyentrik yang siang nanti akan ditemuinya di kampus. Hera berdiri tanpa suara. Mengapa Dokter Indra datang bersama Ibu Farida ke kliniknya? Apakah..?
“Hai, Hera, sudah lama menunggu ya?”
Hera mengangguk sambil memandangi kedua orang itu yang melangkah ke dekatnya. Senyumnya terlihat gugup.
“Selamat pagi, Bu Farida.”
“Selamat pagi menjelang siang, Hera.” Ibu Farida menatapnya dengan senyum lebar. Memaklumi keheranan Hera.
“Ayo, masuk,” Dokter Indra membuka pintu klinik dengan lebar. “Seharusnya tadi kau menunggu di dalam saja. Mutia dan Dana sudah ada di dalam kok.” Dokter Indra bersikap seakan mereka sudah mengenal lama dan mengetahui kebiasaan di klinik.
Ibu Farida dan Hera berjalan memasuki klinik. Di dalam ruangan sudah dingin tanda AC sudah di hidupkan sejak tadi.
“Maaf, Bu Farida, kok bisa ada di sini juga? Apa Ibu Farida ini adalah Mamanya Dokter Indra?” tanya Hera akhirnya.
Ibu Farida dan Dokter Indra tertawa.
“Wah, ketahuan, ya? Padahal tadi mau bikin surprise.” Dokter Indra mengedipkan sebelah matanya ke arah Ibu Farida. “Aku ke dalam dulu, Mama mau ngobrol sama Hera, kan?”
Dokter Indra memasuki sebuah ruangan dan menghilang di balik pintu yang tertutup secara otomatis. Ibu Farida mengajak Hera untuk duduk di bangku yang tersedia disana.
“Sebenarnya, semalam Indra memberitahu Ibu bahwa ada mahasiswa Ibu yang menaruh kartu mahasiswanya di kasir sebagai tanda pembayaran. Awalnya Ibu terkejut dan marah. Tapi begitu Indra menceritakan detail tentangmu, Ibu yakin kalau kau nggak bermaksud menggadaikan kartu mahasiswamu. Setelah Ibu ingat-ingat, kau kan mahasiswa yang sedang mengajukan bahan skripsi. Makanya Ibu mengundangmu untuk bertemu hari ini.”
Hera terbatuk. Dokter Indra menceritakan kalau ia menaruh kartu mahasiswanya sebagai jaminan pembayaran kepada Ibu Farida? Oh, my God! Hera malu sekali.
“Maaf, Bu. Kemarin saya belum sempat ambil uang di ATM. Tapi saya memang berjanji hari ini akan kemari untuk membayar biaya perawatan Ciput.”
“Bukan karena hari ini kita ada pertemuan tentang bahan skripsimu?”
“Itu juga sih, Bu.” jawab Hera sambil nyengir.
Ibu Farida tertawa lepas, memperlihatkan giginya yang putih berbaris rapi. Hera terpana. Entah sudah berapa kali dalam beberapa menit ini Hera melihat Ibu Farida tersenyum dan tertawa. Padahal kalau di kampus Bu Farida sangat pelit tersenyum, apalagi tertawa.
“Sepertinya seru sekali yang dibicarakan. Sampai-sampai kita tidak dilihat, ya, Ciput.” Kata Dokter Indra sambil menggendong Ciput.
Hera dan Ibu Farida menengok kea rah Dokter Indra bersamaan.
“Hai, Ciput, gimana keadaanmu, sayang?”
Hera mengambil Ciput dari gendongan Dokter Indra. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Hera segera menarik tangannya agar tak berlama-lama menyentuh lengan berbulu itu. Untuk menghilangkan rasa kikuknya, Hera mengelus-elus kepala kecil berbulu itu.
“Sepertinya Ciput sangat senang di sini.”
“Oh, ya?”
“Dia makan banyak sekali dan tidur pulas.”
Hera tersenyum senang. Dikecupnya kepala Ciput sekilas.
“Good boy.”
“Mama sudah selesai diskusi dengan Hera?”
“Kami malah belum mulai. Hera belum memperlihatkan kartu mahasiswanya yang sah.” Kata Ibu Farida tegas.
Ups, hampir saja lupa, kalau sebenarnya aku harus bertemu dengan Ibu Farida untuk membicarakan bahan skripsiku, bisik Hera dalam hati. Dengan cepat dikembalikannya Ciput ke pelukan Dokter Indra. Lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan uang selembar seratus ribuan yang telah disiapkannya untuk membayar kekurangan biaya pemeriksaan Ciput, dan menyerahkan ke kasir yang bernama Mutia.
Dokter Indra tersenyum geli dengan kelakuan gadis itu. Tanpa banyak kata, Dokter Indra mengeluarkan kartu mahasiswa dari kantong jas putihnya dan menyodorkannya kepada Hera.
“Selamat berdiskusi.” bisiknya
“Doakan aku, ya.” balas Hera sambil berbisik juga.
“I will.” Dokter Indra mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis. Lalu masuk ke dalam ruang periksa karena sudah ada pasien yang menunggunya.
Untuk sesaat Hera terpana dengan yang dilihatnya barusan. Deheman Ibu Farida membuatnya tersadar dan segera menghadap ke dosennya.
Hanya butuh waktu setengah jam untuk mendiskusikan semua bahan skripsi yang diajukan Hera. Ibu Farida tidak mempersulitnya. Tidak seperti yang sering didengarnya dari teman-temannya.
“Ibu harap, minggu depan kau sudah mengerjakan untuk bab pertama. Tanyakan ke Ibu kalau ada hal-hal yang kurang kau mengerti.”
“Baik, Bu. Terimakasih.” Hera menutup buku catatannya dan memasukkannya kedalam tas selempannya.
“Kalau begitu, Ibu langsung ke kampus. Kau mau ikut Ibu atau masih betah di sini?” goda Ibu Farida.
Seketika wajah Hera memerah.
“Ah, Ibu, bisa saja. Hari ini saya tidak ada kelas. Saya mau pulang. Saya harus menyelesaikan tugas bab satu, kan?”
“Kalau mau main-main dengan anak kucingmu itu dulu juga nggak papa, kok. Nanti Indra bisa mengantarmu pulang.”
Hera tidak berkata-kata. Ia tersipu malu. Apakah ini berarti Ibu Farida bermaksud menjodohkan anaknya denganku? Wajah Hera semakin memerah.
Ibu Farida bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam ruang praktek dokter Indra. Tidak berapa lama, Ibu Farida keluar bersama Dokter Indra.
“Mama pulang dulu, ya, Ndra. Jangan lupa antar Hera pulang.”
“Jangan khawatir, Ma. Indra janji nanti Indra antar pulang tanpa kurang satu apa pun.”
“Ya sudah, bye. Bye, Hera.”
“Hati-hati, Bu.”
Ibu Farida menghilang di balik pintu.
“Thanks, sudah membantuku, Dok.”
“It’s oke. Aku hanya bertanya pada Mamaku sewaktu melihat kartu mahasiswamu. Ternyata Mama membenarkan menjadi dosen pembimbingmu. Ya sudah, Mama langsung minta bertemu denganmu disini.”
Hera mengangguk pelan.
“Jadi, kau masih mau main dengan Ciput atau mau pulang?” goda Dokter Indra, “Lagi pula di dekat sini ada tempat makan yang enak loh. Kapan lagi bisa mendekati anak Dosen kalau nggak sekarang?”
“Dokter Indra… Ihh, ngegodain terus deh.”
Dokter Indra tertawa lebar memerkan gigi putihnya.
Selesai

Komentar
Ternyata kucing punya banyak kisah buat di ceritain ya, Mbak..