Sebatang Cokelat Untuk Nila

                                                                           Gb. Freepik  

            Gubrak!

            “Aduh!”

            Nila terpekik kaget. Dito menoleh ke belakang. Ia melihat Alena sudah terduduk di tanah licin sambil meringis kesakitan disamping Nila yang berdiri kelelahan. Dito dan Wawan mendekati Alena untuk membantunya berdiri.

            “Sakit?” tanya Dito

            Alena mengangguk pelan. Tangannya mengurut-urut pinggangnya.

            “Tadi ‘kan aku sudah ingatkan untuk jalan hati-hati. Sepertinya semalam hujan turun deras di sini. Tanahnya berlumpur, licin,” ujar Wawan.

            “Iya. Tadi aku menghindari lumpur, eh, malah jatuh.”

            Dito dan Wawan mau tertawa  melihat mimik Alena yang lucu. Antara kesakitan dan malu. Sebenarnya Nila dan teman-teman tidak tega melihat Alena yang anak Mama ikut berlelah-lelah berjalan jauh dan akhirnya terjatuh seperti ini. Pagi tadi sebelum berangkat,  Mama dan Papa Alena mewanti-wanti semua orang untuk menjaga Alena. Maklum, Alena adalah anak perempuan kesayangan Mama dan Papanya.

            “Yuk, kita jalan lagi. Tempat kita berkemah masih di atas bukit.” Ajak Dito. Ia tidak ingin kejadian jatuhnya Alena menghambat mereka sampai ke tempat berkemah. Sebab dibelakang Alena masih ada barisan teman-teman yang masih menunggu untuk berjalan. Diliriknya Nila yang menatapnya tajam sambil memberikan sedikit senyum. Nila melengos.

            Tahun ini sekolah mengadakan camping ceria setelah menerima raport semester ganjil untuk sekedar me-refresh ketegangan  yang terjadi pada ujian akhir semester lalu. Letak camping mereka berada di Sukabumi. Lokasi ini dipilih Sena, ketua Osis, setelah berdiskusi dengan anak-anak pecinta alam. Selain pemandangannya bagus, untuk mencapai ke lokasi pun tidak terlalu jauh dari tempat parkir kendaraan. Hanya berkisar tiga ratus meter saja.

            Hari sudah menjelang sore ketika semua peserta tiba di lokasi camping. Untungnya panitia dan pengelola lahan telah mendirikan tenda. Tenda anak laki dan perempuan dipisahkan dengan jalan setapak menuju ke kamar mandi umum dan sebuah warung. Lampu-lampu badai sudah tersedia di depan masing-masing tenda.

            “Teman-teman, tenda-tenda sudah kami sediakan. Tenda laki-laki ada di sebelah kanan, sedangkan tenda perempuan ada di sebelah kiri. Tenda guru dan panitia ada di bawah. Untuk nama-namanya sudah kami tempelkan di depan tenda. Satu tenda berisi tiga orang. Kami harap tidak ada yang berpindah posisi kecuali atas persetujuan panitia. Sekarang silakan kalian ke tenda, beristirahat dan mandi. Malam nanti kita akan membuat acara api unggun,” kata Sena dengan dibantu alat pengeras suara, agar terdengar oleh peserta camping ceria. Yang lain langsung bersorak.

            Lima menit berselang, tempat camping itu sudah mulai ramai dengan teriakan-teriakan anak-anak SMU Rembulan yang mencari tenda masing-masing.

            “Nila, kau setenda dengan Meyna dan Alena,” teriak Riri sambil melambaikan tangannya. Nila mendekat. “Tendaku di sebelah sini dengan Ati dan Fanny.”

            “Tenda kita berdekatan. Asyik!”

            “Iya, nanti kita bisa pesta baju tidur.” sahut Alena di belakang Nila.

            Semua mata memandang Alena yang balik memandang mereka dengan senyum tanpa berdosa.

            “Alena, kita ini sedang camping, bukan sedang menginap di rumah teman.”

            “Memangnya tidak boleh kita pesta anak-anak perempuan?”

            Nila melengos tanpa menjawab dan masuk kedalam tenda. Ia melihat tas punggungnya sudah ada di dalam tenda. Riri meninggalkan Alena dan kembali ke tendanya.

            “Nila… Mey..”

            Nila berbalik menatap Alena dengan kesal.

            “Nggak ada pesta baju tidur, Lena sayang. Kita bisa kena hipotermia karena kedinginan.”

            Alena masih ingin berkata-kata namun Nila memberikan tanda untuk tidak berbicara lagi.

            “Aku mau mandi. Badanku lengket berkeringat nih. Mana celanaku penuh lumpur,” kata Meyna.

            “Aku ikut,” ujar Nila cepat. Ia juga merasakan hal yang sama. Ingin segera membersihkan diri dan mengenakan baju yang bersih.

            Tinggal Alena yang masih berdiri di depan tenda kebingungan karena teman-temannya sudah pergi meninggalkannya sendirian.

            “Lena! Ayo, mandi.” Teriak Nila.

            “Eh, Iya, tunggu.”

***

            Semua peserta camping duduk melingkar didekat api unggun. Sudah hampir satu jam acara pensi dadakan dimulai setelah acara makan malam tadi. Di depan, Satrio dan Wawan sedang bermain gitar mengiringi lagu yang dibawakan Dito. Sebuah lagu Kemesraan yang dulu pernah dibawakan oleh penyanyi kondang  Iwan Fals dan kawan-kawan. Lalu mereka serempak berdiri dan bernyanyi bersama. Lagu itu sekaligus menutup acara malam ini. Untuk selanjutnya peserta diperbolehkan untuk melakukan acara bebas. Sebagian memilih berkumpul membentuk group dan mengobrol ngalor-ngidul, sebagian lagi memilih beristirahat di tenda masing-masing.

            Nila, Riri dan Meyna memilih duduk di warung sambil menikmati minuman panas dan pemandangan malam yang indah. Beberapa temannya yang lain juga melakukan hal yang sama. Warung itu terdiri dari beberapa saung sehingga bisa menampung banyak orang. Alena, Fanny dan Ati, tidak ikut duduk-duduk di warung. Mereka memilih tidur di tenda karena kelelahan.

Malam itu langit sangat cerah. Bintang-bintang tersebar di langit yang menghitam. Seperti kilauan permata di atas kain beludru.

            “Indah ya. Aku paling senang menikmati bintang-bintang di acara camping seperti ini.” ujar Meyna sambil menyeruput bandreknya.

            “Sama, aku juga. Tapi aku nggak suka jalan yang berlumpur seperti tadi. Licin. Untungnya aku tidak jatuh tadi.” sahut Nila sambil cemberut. Ia masih ingat betapa Dito dengan cepat membantu Alena yang terjatuh di dekatnya. Padahal tadi ia sudah merasa kelelahan berjalan menanjak di tanah berlumpur.

            Riri mengangguk tanda setuju. Mulutnya masih penuh mengunyah pisang goreng.

            “Eh, kenapa tuh mulut jadi cemberut? Bandreknya rasanya asem?”

            Nila memonyongkan bibirnya yang tipis. Dicomotnya sepotong tahu goreng dan langsung menggigitnya bersama cabe rawit.

            Riri dan Meyna saling berpandangan. Namun keduanya tidak mengetahui penyebab kesalnya Nila. Riri dan Meyna mencoba memecahkan suasana dengan membicarakan hal yang lain. Namun Nila masih tetap manyun.

            Lima belas menit kemudian, ketiganya memutuskan untuk kembali ke tenda. Mereka harus beristirahat segera karena besok acara permainan akan dilaksanakan seharian.

            “Nila, tunggu!”

            Sebuah suara membuat ketiganya menghentikan langkah dan menoleh ke asal suara. Dito berdiri sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.

            “Ada apa?”

            “Ehem… kita minggir dulu, yuk.” Riri menggamit tangan Meyna untuk sedikit menjauh dari keduanya.

            “Nila, maaf, ya, tadi Dito tidak berjalan didekatmu. Tadi panitia sudah membagi kelompok-kelompok ‘kan?”

            Nila mengangguk. Dari jauh-jauh hari Mama Nila memang sudah meminta Dito untuk menjaga Nila. Nila cepat lelah dan badan kurusnya tidak kuat membawa ransel yang berat. Dito berjanji akan menjaga Nila dan membantunya. Namun kenyataannya Dito berjalan dengan Wawan di depannya. Walaupun sebagian perlengkapan Nila dibawa oleh Dito.

            “Iya.”

            “Tadi nggak jatuh seperti Alena, ‘kan?”

            Nila menggeleng.

            “Bagus deh. Sekarang balik ke tenda, sudah malam.”

            Nila mengangguk.

            “Ini untukmu. Buat nambah tenaga.”

            Dito mengangsurkan tangannya yang mengenggam sebatang coklat ke arah Nila. Seketika senyum Nila merekah.

            Thanks, ya, To. Makasih juga karena sudah bawain ranselku. Kamu baik banget.”

            Dito tersenyum kecil.

            “Selamat malam, Nila,” ucap Dito sambil berjalan menjauh.

            “Cie..cie.. yang dapet cokelat dari Dito,” goda Riri dan Meyna berbarengan.

        "Menurut cerita, kalau laki-laki memberikan coklat ke seorang perempuan, itu berarti  adalah ungkapan perasaan cinta. Jadi, kalian berdua berpacaran ‘kan?" tuduh Meyna.

            “Ish.. kalian ini, ngawur,” ucap Nila .tergelak

            “Pasti nanti malam ada yang bermimpi indah nih.” goda Riri.

            “Hei.. kalian nggak usah berpikir macam-macam. Dito itu sepupuku. Ayahnya adalah kakak Mamaku.”

            “Oh.. ku kira kalian pacaran.”

            “Kalian ini memang dasar piktor.”

            Ketiganya tertawa. Mentertawakan kesalah pahaman yang terjadi.

 

Selesai

           

 

Komentar

Kemas Griya mengatakan…
Mantap udah latihan buat celeng nih
Arni narni mengatakan…
Iya, Bu.. biar nggak kaku nanti..