MI  KUAH

 

                                                                                           Gb. Freepik

Hari itu adalah hari ulang tahun Ari, keponakanku, yang ke 23 tahun. Beberapa orang dari keluarga terdekat datang untuk ikut ke dalam acara syukuran sekaligus menengok Ibu Mertua. Maklum, sudah lebih dari lima bulan kami tidak bertemu karena pandemi.

Di tengah lingkaran, sudah tersedia kue tart kecil, 3 kotak martabak telur, dan 2 kotak  besar pizza. Ibu Mertua yang kami panggil Mbah, sedang sibuk menyuap potongan-potongan martabak  telur spesial yang telah di cocol ke mangkuk kuah yang segar, ke mulutnya.

“Mbah suka banget sama martabaknya. Enak.” katanya.

“Syukurlah kalau Mbah suka.” jawabku.

“Mbah juga suka sama makanan mi yang disiram kuah.”

“Mi ayam, Mbah?” tanyaku.

“Bukan.”

“Mi bakso?” tanya Ari.

“Bukan.”

“Mi Jawa?” tanya Om Wawan seperti sedang mengikuti acara tebak kata di stasiun tv.

“Bukan!” jawab Mbah kesal karena tidak ada yang benar menyebutkan makanan yang ia maksud.

“Jadi apa dong?” kami saling bertanya dan bertatapan. Tapi yang lain hanya menggeleng.

“Itu loh, yang sering dibeli Hanif.” sahut Mbah dengan mata berkerjap. Hanif memang cucu kesayangannya.

Semua mata memandang Hanif, keponakanku yang berumur sembilan tahun, yang sedang bermain game.

“Hanif! Jajanan apa yang sering kamu beli buat Mbah? Yang pakai kuah.”

“Oh, itu, mpek-mpek.” sahutnya santai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

“Iya, mpek-mpek.. enak deh di kasih mi, terus disiram kuah.” Mbah tersenyum bahagia karena pertanyaannya bisa dijawab dengan baik oleh Hanif.

Yang lain hanya berpandang-pandangan sambil tersenyum kecut.

Selesai

Komentar

Kemas Griya mengatakan…
Mbaaah mbaaah
Arni narni mengatakan…
Opo, nduk?... Eh,...