Pindahan
Wendy meletakkan tumpukan box file di meja. Hanya tinggal barang-barang ini yang belum terbawa. Hari ini adalah hari terakhir Wendy menempati ruangan kantor yang sudah dua tahun ditempatinya. Ia dan teman-teman lainnya harus meninggalkan ruangan itu karena ruangan ini akan direnovasi. Wendy dan teman-teman akan menempati ruangan baru di lantai tiga di gedung baru.
Wendy menatap ruangan untuk yang terakhir kalinya. Ruangan yang luasnya 20x20 m2 di lantai enam ini banyak sekali cerita tentang ia dan teman-temannya sesama bagian kreatif. Total mereka bersepuluh. Di ruangan yang baru nanti bagian kreatif dibagi menjadi tiga kelompok. Dan mereka berada di ruangan yang berbeda. Wendy bersama tiga orang temannya menempati ruangan di sebelah pantry. Yang lainnya berpencar. Sementara satu bagian kreatif yang diunggulkan perusahaan menempati ruang depan sebelah pintu kaca. Satu bagian di seberang ruangan Wendy. Ruangan baru ini lebih sempit dari ruangan sebelumnya. Tapi tidak mengapa karena mereka di sini hanya sekitar enam bulan saja. Begitu Ruangan lama selesai direnovasi, mereka akan kembali menempati ruangan besar bersama.
Wendy dibantu Ali, OB kantor yang baru dua minggu bekerja, membawa barang terakhir melewati ruangan-ruangan besar lainnya yang sudah kosong. Ali hanya bekerja sebagai pengganti Sarip yang sedang sakit.
“Tunggu, Mbak, saya mengunci pintu dulu.” ujar Ali ketika mereka berada di luar ruangan.
Ali mematikan lampu-lampu di dalam ruangan kemudian menguncinya dari luar. Ruangan itu tampak gelap dan tampak sedikit menyeramkan karena biasanya ruangan itu selalu ramai dan lampu-lampu menyala terang. Baru kali ini Wendy melihat ruangan ini gelap. Hanya lampu di depan lift yang menyala temaram. Wendy bergidik.
“Ayo, mbak, kita turun.”
Wendy mengangguk. Wendy memencet tombol turun yang terpasang di dinding. Tumben pintu lift tidak cepat terbuka. Padahal Wendy sudah ingin secepatnya ingin meninggalkan ruangan yang mendadak membuatnya sesak napas.
“Tumben, lama banget lift-nya naik.” kata wendy setelah menunggu hingga lima menit.
“Semoga lift belum dimatikan, Mbak. Sebab, informasi dari bagian maintenance, Lift akan dimatikan pada pukul enam sore.”
Wendy melirik ke jam tangannya dengan susah payah karena memeluk box file. Pukul enam lebih sepuluh menit. Kenapa Ali tidak memberitahunya dari tadi, sih! Keluh Wendy dalam hati. Kalau tahu lift akan dimatikan, pasti aku tidak perlu istirahat untuk minum kopi bareng Bismar dan Lina tadi.
“Coba telepon maintenance, pak. Apa benar Lift ini sudah dimatikan atau belum? Ponsel saya tertinggal di ruangan baru.”
Ali dengan cepat memencet nomor telepon Pak Martin, bagian maintenance. Tapi beberapa kali dihubungi tidak ada nada panggil.
“Mbak, signal-nya hilang. Sepertinya wifi-nya sudah mati juga.”
“Lalu?”
“Berarti kita turun lewat tangga, Mbak.”
Tangga darurat? OMG! Berarti harus melewati anak tangga yang sempit dan sepi, kata Wendy kecut. Selama ini ia selalu menghindari menggunakan tangga darurat karena cerita teman-temannya yang sering ditakut-takuti oleh mahluk-mahluk tak kasat mata.
Wendy dan Ali beriringan menuruni tangga. Ia merasa seram. Tapi setidaknya ia tidak sendiri karena ada Ali di belakangnya. Beberapa saat mereka melangkah dengan diam. Hentakan kaki di tangga yang sepi membuat Wendy ketakutan.
“Ali, kalau ruangan di bawah lift-nya masih nyala?”
“Sepertinya mati juga, Mbak.”
“Lift barang yang di ujung, bagaimana?” Wendy berharap ada ke ajaiban agar ia segera lepas dari tangga darurat dan rasa ketakutannya ini.
“Sama, Mbak, mati juga.” Jawab Ali.
Wendy merasa Ali hanya menjawab apa yang ditanyakan, tidak lebih. Mungkin sebagai OB baru, ia tidak berani banyak bicara terhadap staff kantor karena khawatir disangka kurang ajar, pikir Wendy. Akhirnya mereka melangkah dalam diam. Wendy merasa sudah menuruni banyak anak tangga tapi mereka belum juga sampai ke lantai dasar.
Tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu hingga ia nyaris terjatuh. Karena ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, tumpukan box file yang tadi dipeluknya jatuh berhamburan hingga menimbulkan suara berdebum di lantai bawah.
“Astaghfirullah!” Wendy langsung berlari turun untuk mengumpulkan semua file-file yang berhamburan.
“Ali… Ali… bantuin aku.” Wendy berteriak sambil memunguti kertas-kertas di tangga. Ali tidak menyahut.
“Ali!!! Bantuin aku pungutin file!” teriak Wendy marah. Bukannya mendatanginya, Ali malah tidak terlihat batang hidungnya.
“Ali! Kamu kemana? Bantuin aku!”
Ali tetap tidak terlihat. Pasti tadi Ali duduk di anak tangga atas karena kelelahan membawa tumpukan barang yang lebih berat.
Wendy memunguti kertas-kertas dan memasukkan kembali ke dalam box file yang lalu dipeluknya erat. Ia tidak ingin box file itu terjatuh dan berantakan lagi. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang dingin menusuk di punggungnya. Wendy berbalik. Ia melihat sebuah pintu besi yang bertuliskan angka satu. Berarti ia sudah sampai di lantai satu! Pantas saja ia merasa kelelahan. Ia meraih gagang pintu dan mencoba membukanya, namun terasa berat. Wendy menaruh box file di lantai lalu mencoba memukul-mukul pintu besi, mencari perhatian bagi orang-orang yang berada di sekitar pintu tangga darurat.
Wendy terus berusaha membuka pintu hingga lima menit. Namun masih belum ada orang yang membukakan pintu. Wendy kembali berteriak-teriak memanggil orang-orang untuk membukakan pintu.
“Pak!.. tolong buka!… Pak.. tolong buka pintunya!”
Tiba-tiba lampu tangga berkedip-kedip. Lalu mati. Ruang sempit itu gelap gulita. Wendy menangis ketakutan. Ia terus berteriak sambil memukul-mukul pintu lebih keras lagi. Ia tidak peduli telapak tangannya menjadi panas dan sakit.
Lampu kembali menyala. Wendy mendengar ada suara pintu dibuka. Lalu ada suara langkah kaki menuruni anak tangga. Kemudian suara itu menghilang. Wendy meringkuk ketakutan di pojok. Ia menangis sesenggukan. Tiba-tiba ia mencium bau busuk yang menusuk hidung. Tak lama kemudian ia melihat ada bayangan hitam yang mendekat. Bayangan itu berbentuk kepala dan tubuh yang aneh. Kepala yang besar, tubuh yang tinggi, sementara tangannya menyentuh lantai. Suara napasnya menderu. Dan bau busuk itu semakin menusuk hidung. Wendy memejamkan mata, lalu ia berteriak sekencang-kencangnya.
“Tolong!... Tolong!... Toloooongg..!”
Seseorang mengguncang-guncangkan tubuhnya sambil memanggil namanya. Suara yang familiar. Ia pun mencium aroma minyak kayu putih di hidung dan di pelipisnya.
“Mbak Wendy.. Mbak Wendy, bangun, Mbak.”
Perlahan mata Wendy terbuka. Ia mendapati Sarip, OB kantor tengah mengguncang-guncangkan lengannya. Di sebelahnya ada dua security dan Bismar yang sedang menelepon seseorang dengan panik.
“Alhamdulillah, Mbak Wendy sudah siuman.”
“Aku dimana?” Wendy mencoba mengingat kejadian terakhir. Yang ia ingat, ia sedang membawa berkas melewati tangga darurat dan pintu besinya tidak bisa terbuka.
Wendy mencoba bangkit dari tidur, dan duduk. Kepalanya masih berat. Ia baru sadar kalau ia sedang berada di ruangan klinik. Mungkin karena sudah lewat jam kerja, Dokter Reni pun sudah pulang.
Bismar
menyodorkan segelas air putih padanya. Lalu ia meminta Pak Kardi, Pak Imam dan Sarip menjauh untuk memberikan ruang untuk Wendy.
“Minumlah dulu.”
Wendy menerimanya dan meminumnya dua teguk.
“Kenapa aku ada disini, Mar? Bukannya tadi aku sedang pindahan?”
Bismar menghela napas.
“Tadi kau terkunci di gedung lama. Untung saja Sarip menemukanmu sedang pingsan di lantai atas.”
Wendy memijit kepalanya yang pusing sambil mengingat kejadian secara detil.
“Tidak.. bukan begitu. Tadi aku turun lewat tangga darurat bersama Ali, OB pengganti Sarip, karena lift sudah mati. Entah di lantai berapa, aku tersandung dan file-fileku jatuh berantakan di lantai dasar. Aku langsung menuruni tangga dan mengumpulkan file. Aku memanggil-manggil Ali untuk membantuku, tapi dia tidak datang. Entah ia pergi kemana. Padahal sebelumnya ia berjalan dibelakangku.” Wendy mengatur napas, “Setelah itu aku baru sadar kalau aku sudah di lantai dasar. Aku minta dibukakan pintu karena pintu itu terkunci. Aku berteriak dan terus berteriak. Tapi tidak ada yang datang. Lalu lampu tangga mati. Setelah bebeapa menit lampu menyala kembali dan aku melihat ada mahluk yang meyeramkan di sana. Lalu, aku sudah ada di sini.”
Semua orang menatap Wendy dengan bingung.
“Wen, bukan begitu kejadiannya.”
Giliran Wendy yang bingung.
“Tidak ada OB yang bernama Ali. Selama ini OB kita hanya Sarip. Dan tadi Pak Kardi, security yang berjaga di pintu depan gedung lama, melihatmu naik ke lantai atas sambil berbicara sendiri. Kau seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Tapi Pak Kardi tidak melihat ada orang lain didekatmu. Sampai satu jam Pak Kardi menunggu kau turun dari lantai atas, namun kau tidak turun-turun. Lalu Pak Kardi dan Pak Imam ditemani Sarip mengecek ke lantai atas karena dari pengamatan cctv, kau masih berada di atas dan berjalan ke sana ke sini tanpa tujuan. Kau bukan ke tangga darurat, Wen. Kau pingsan di gudang lantai atas. Lalu Pak Imam dan Pak Kardi yang membawamu kemari. ”
Wendy melongo. Aku ditemukan di gudang lantai atas? Bukankah gudang itu sudah lama terkunci? Ia pun tidak pernah memasukinya. Lalu mengapa aku ada disana? Dan Ali ternyata bukan OB kantor? Lalu siapa yang dua minggu ini menemaninya bekerja lembur? Wendy menutup wajahnya sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangisnya pecah. Ia ketakutan. Ternyata selama dua minggu ini ia telah diintai mahluk penghuni gudang atas.

Komentar