AMARAH 
Aiman berlari kencang menuju gubuk bambu. Teriakan perempuan yang seumur hidupnya tinggal bersama dirinya terus terdengar. Ia tidak peduli kaki telanjangnya menginjak lumpur ataupun kotoran sapi. Cangkulnya yang tadi di pakai untuk menggarap kebun tebu, di lemparkan begitu saja. Tak peduli menancap dimana. Ia hanya ingin segera sampai rumah dan melihat perempuan tua yang berteriak hingga membuat para tetangganya berdatangan.
“Bubar-bubar!” teriak Aiman pada tetangganya yang melongokkan kepalanya ke dalam rumah mencari tahu apa yang terjadi.
Seketika para tetangga membubarkan diri. Mereka tahu watak temperamen Aiman. Lebih baik menyingkir ketimbang kena sambitan potongan kayu.
Setengah menendang, pintu kayu reyot itu terbuka.
“Ibu kenapa?!” tanya Aiman pada Indri, istrinya,
Indri menggeleng ketakutan.
“Maaf… Aku sedang masak waktu Ibu teriak-teriak.”
Aiman mendekati Ibunya yang masih berteriak di kamar gelap karena tidak ada sinar matahari yang masuk. Kamar yang berbau busuk. Dengan marah, ia mencengkeram lengan kurus ibunya dan berbisik di kupingnya. Seketika Ibunya berhenti berteriak. Entah apa yang Aiman bisikkan, namun sontak membuat wajah tua tak terawat itu berubah layu.
Aiman meninggalkan Ibunya yang kini terdiam sambil menundukkan kepalanya. Kedua kakinya kurus menghitam, terkunci dalam pasungan.
“Jangan pernah membuat keributan lagi. Aku benci perlakuan tetangga yang menyebut ibuku gila!” Aiman memandang marah ke Indri sambil menendang panci berisi sayur daun singkong untuk makan siang mereka. Tumpah memenuhi lantai tanah yang penuh jelaga.
Indri mengkerut di pojok dapur. Ini sudah perlakuan Aiman yang ke seratus kali pada dirinya. Perempuan bertubuh kecil itu mencoba kuat namun airmata tidak dapat ditahan. Ia menangis tanpa suara. Ia benci diperlakukan seperti ini. Ia marah. Namun tak mampu berbuat apa-apa. Ia benci dengan suaminya yang pemarah.
Selama ini tanpa sepengetahuan Aiman, Indri selalu membuka pasungan Ibu mertuanya untuk memberinya makan dan membersihkan tubuhnya yang bau. Sayangnya ia tidak bisa membersihkan kamarnya yang berbau busuk. Setiap kali ia katakana ke Aiman, suaminya itu pasti mengamuk. Ia ingin Ibunya mati dalam kesengsaraan dan kesakitan, katanya setiap malam. Indri tidak tahu mengapa Aiman begitu. Ia tidak pernah berani bertanya.
***
Pagi pun menjelang. Gubuk reyot yang semula berdiri di dekat kebun tebu, kini rubuh meninggalkan serpihan-serpihan bambu yang menghitam. Sudah tidak ada lagi asap sisa kebakaran karena telah hilang terbawa angin. Namun tidak ada tetangga yang tersadar. Mereka menganggap bau bakaran itu adalah bakaran sampah dedaunan seperti yang biasa mereka lakukan di kala pagi.
Mereka tak lagi melihat gubuk reyot milik Aiman saat ke sawah. Hanya sepotong mayat laki-laki yang telah rusak wajahnya di antara puing-puing bambu. Tidak ditemukan istri Aiman dan Ibunya yang gila. Jarak rumah yang berjauhan membuat mereka luput dari peristiwa kebakaran.
Selagi para warga menguburkan jasad Aiman, Indri berjalan di kebun tebu menuju hutan kecil dengan menyeret Ibu mertuanya. Semalam ia menjadi saksi atas pembunuhan yang dilakukan Ibu mertuanya terhadap Aiman yang sedang tertidur. Indri lupa mengunci pasungan kaki ibu mertuanya. Untuk menutupi semuanya, Indri membakar gubuk reyot itu.
Gb. Freepik
Komentar