RENCANA

 

Nini sebentar-sebentar menatap ke arah jam dinding. Sudah pukul tujuh lewat empat puluh menit. Sudah malam, desahnya. Perutnya sudah berkeruyuk minta diisi. Malam ini James berjanji akan mengajaknya makan malam ke luar. Nini juga sudah minta ijin ke Ayah dan Ibu untuk tidak bergabung makan malam dengan mereka. Ayah dan Ibu memberikan ijin asal jangan pulang terlalu malam.

Nini berdiri dan mengintip ke jendela. James belum datang seperti janjinya yang dikatakannya tadi siang.

“Ni, makan dulu sedikit, biar sakit magh-mu tidak kambuh.” kata Ibu melihat Nini yang gelisah.

“Nggak, ah, Bu. Sebentar lagi James juga datang. Mungkin sekarang sudah lewat lampu merah didekat gapura.” Jawab Nini.

Benar saja, lima menit kemudian James tiba di depan rumah Nini. Tidak dengan motor besar dengan knalpot yang membisingkan telinga seperti biasanya, tapi James mengendarai mobil van.

“Assalamualaikum, Ni. Maaf, aku datang telat.”

“Waalaikumsalam, James.” Nini tersenyum manis menjemputnya. “Nggak pa-pa. Yuk, masuk. Ayah dan Ibu sudah menunggu.”

Keduanya masuk ke dalam rumah. Nini memberitahukan kedatangan James pada Ayah dan Ibu yang sudah duduk di sofa ruang tamu. James mencium tangan Ayah dan Ibu dengan takjim setelah memberikan salam. Ini yang di sukai orangtua Nini terhadap anak muda tengah mendekati anaknya ini.

“Om, Tante, kita berangkat sekarang, yuk.”

“Kemana? Bukannya kalian yang berencana makan di luar?” tanya Ayah.

“Saya belum berani mengajak keluar anak Om danTante tanpa pengawalan. Saya khawatir khilaf.”

Oh, kata-kata James membuat Nini semakin jatuh cinta padanya.

Akhirnya tanpa memerlukan debat, Ayah dan Ibu ikut makan keluar bersama James dan Nini. Mereka pergi dengan satu mobil, menuju ke arah kebayoran baru.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah warung tenda yang ramai di Jalan Panglima Polim. Beberapa mobil dan motor parkir memenuhi trotoar di kiri dan kanan bagian warung. Sopo Ngiro, itu yang tertulis besar di tenda bagian depan.

“Jangan dilihat dari warungnya, tapi dicoba dulu rasanya.” kata James sebelum turun dari mobil.

Mereka duduk di kursi plastik melingkar bermeja kayu. Seorang pelayan menyodorkan menu. Sekali lirik, Nini tahu kalau menu yang ditawarkan adalah makanan dari negeri Sakura, Jepang.

Mereka memesan beef yakiniku, chicken katsu, ebi katsu dan tempura campur. Minumnya cukup teh tawar panas. Mereka harus menunggu sekitar sepuluh menit sebelum semua menu yang mereka pesan keluar. Setelah semua pesanan terhidang, tanpa menunggu aba-aba, mereka langsung menikmati makanan. Sesekali Nini memberikan ibu jarinya tanda makanannya enak. Ayah mengangguk tanda setuju. James tersenyum senang. Misinya untuk membuat orangtua Nini terkesan padanya, berhasil.

***

“Om, Tante, kalau tidak keberatan, orangtua saya akan datang untuk berkenalan dengan Om dan Tante minggu depan, apa Om dan Tante keberatan?” tanya James begitu mereka tiba di rumah. Saat itu mereka tengah duduk-duduk di teras depan sambil menikmati kopi dan pisang goring buatan Bik Minah.

Nini terkejut. Hatinya berdegub kencang. Apakah tidak terlalu terburu-buru orangtua mereka saling  berkenalan? Toh, ia dan James baru dua bulan ini jadian. Ayah dan Ibu berpandangan beberapa saat, lalu senyum Ibu mulai terkembang. Anak gadisnya sebentar lagi akan ada yang meminang.

“Om dan tante tidak keberatan untuk berkenalan dengan orangtuamu, James. Nanti Ibu akan memasakkan steak solo buat acara makan-makannya.”

“Ya, kami tidak keberatan sama sekali.” tegas Ayah. Dari wajahnya jelas sekali ada kegembiraan di sana.

“Terimakasih, Om, Tante. Nanti akan saya beritahukan kepada orangtua saya.” ujar James lega.

Nini duduk dengan salah tingkah di sebelah James. James menyadari kegusaran Nini. Namun ia tidak berkata apa-apa.

“Ni, maaf ya, aku tidak bicarakan ini terlebih dahulu padamu. Aku cuma tidak ingin hubungan kita tidak direstui orangtua kita. Makanya aku ingin mereka  saling kenal. Kalau memang kita berjodoh, aku ingin segera melamarmu.” ucap James begitu Nini mengantarkan James hingga ke gerbang rumahnya.

“Aku tahu, James. Tapi, apa ini tidak terlalu cepat? Kita belum saling mengenal satu sama lain. Kita baru dua bulan jadian.”

“Justru itu, Ni. Sejak awal aku mendekatimu adalah untuk menikahimu. Aku tidak ingin terlalu lama berpacaran. Aku khawatir khilaf.  Lebih baik kita berpacaran ketika kita sudah menikah. Lebih aman dan banyak pahala.”

Nini diam. Ia tak dapat berkata-kata lagi. James memang lebih dewasa dan matang dalam berpikir. Dan sesungguhnya usia mereka pun sudah cukup untuk menikah.

“James,… terimakasih.” bisik Nini dengan mata berkaca-kaca.

James tersenyum dan mengangguk.

“Aku harap pertemuan kedua orangtua kita nanti akan mulus dan aku bisa  meminangmu segera.”

Nini menitikkan airmata bahagianya. Ia hanya mengangguk.

“Aku pulang ya, Ni. Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati, James.”

Motor James meraung menyusuri jalan komplek perumahan Nini, meninggalkannya yang masih terus memandangi punggung James. Entah karena jalan yang gelap atau karena ada seekor kucing yang melintas, membuat James hilang kendali. Hingga akhirnya motor James menghantam pohon besar didekatnya dengan suara yang sangat kencang.

Nini menjerit histeris dan berlari sambil berurai airmata. Para tetangga langsung berkerumun, melihat jasad James yang terpental lima meter dari tempatnya menabrak pohon, dengan kepala yang hancur dan darah bercucuran. Helmnya pecah menandakan benturan yang sangat kuat.

Selesai

Komentar

Kemas Griya mengatakan…
Endingnya bercucuran
Arni narni mengatakan…
Iyak... tragis, ya
Arni narni mengatakan…
Hiks.. kadang rencana hanya tinggal rencana, Sis..