Makan Siang
Luna masih asyik membaca buku komik kesukaannya ketika Emak berteriak memanggil namanya. Namun Luna tampaknya tidak mendengar.
“Luna! Dipanggil sedari tadi kok nggak nyaut?”
“Eh, Emak, ada apa?”
“Kok ada apa? Bantuin emak masak. Sebentar lagi Bapak pulang.”
“Kenapa harus Luna sih, Mak? Luna lagi asyik nih baca komik. Lagi seru-serunya nih.”
“Nanti bacanya di terusin lagi kalau masaknya sudah selesai. Ayo cepat ke dapur.”
Emak melangkah kedapur di ikuti Luna yang berjalan dengan mulut mayun dan langkah yang malas. Luna melihat dapur dalam keadaan berantakan. Sayuran tergeletak di atas baskom masih utuh dengan kertas pembungkusnya. Bawang merah dan bawang putih yang nampak akur berada di tampah bersama cabe-cabean.
“Kupasin bawang merah sama bawang putih. Terus sayurnya di siangi.” Kata emak sambil mencuci beras.
“Memangnya emak mau kemana sih kok masak sampai terburu-buru begini?”
“Teman-teman Bapak katanya mau ikut mampir makan siang. Mendadak sekali ngasih taunya. Ini kan sudah jam sebelas, sebentar lagi mereka pasti datang. Kalau makanan belum siap kan Emak malu. ”
“Berapa orang, mak? Sayuran ini cukup buat berapa orang?”
“Bapak nggak bilang berapa orang. Tapi semoga cukup deh.”
Luna duduk di kursi dapur lalu mengerjakan tugas dari Emak, mengupas bawang merah dan bawang putih dan menyiangi sayuran. Luna memang beberapa kali di minta Emak untuk mengerjakan tugas-tugas ringan di dapur. Supaya nantinya Luna bisa memasak. Anak perempuan kan memang harus bisa memasak. Kata emak, walaupun nantinya Luna menjadi orang kantoran, tetap wajib memasak untuk keluarganya kelak.
Setengah jam sudah berlalu. Emak sedang memasak nasi di rice cooker dan mengungkep ayam. Rencananya, Emak mau masak sayur sop, Ayam goreng, tempe goreng dan sambel terasi.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh lima menit, Bapak dan teman-temannya belum juga datang. Padahal Emak dan Luna sudah berjibaku memasak dan menyiapkan peralatan makan di meja makan.
Pukul satu lewat tiga puluh Bapak pulang. Sendiri tanpa teman-temannya.
“Pak, mana teman-teman Bapak? Katanya mau makan siang bersama?” tanya emak penasaran.
“Sudah.” jawab Bapak sambil membuka sepatu hitamnya.
“Sudah bagaimana, Pak?” Emak duduk di depan Bapak.
Luna mendengarkan pembicaraan Emak dan Bapak sambil membaca komik.
“Bapak dan teman-teman Bapak sudah makan siang bersama tadi.”
“Maksud Bapak bagaimana? Bukannya tadi Bapak bilang mau mampir makan siang di rumah sama teman-teman Bapak?” Emak semakin bingung.
“Mak, tadi Bapak bilang mau mampir makan siang bersama teman-teman, tapi bukan makan siang di rumah. Bapak dan teman-teman makan siang di warung Mpok Maesaroh.”
“Waduh, Emak salah pengertian dong. Mana Emak sama Luna sudah masak banyak.” Emak memandang makanan yang sudah tersaji di meja makan dengan sedih. Padahal untuk Emak dan Luna sudah bersusah payah memasaknya.
Bapak dan Luna tersenyum maklum. Emak memang begitu. Seringkali tidak fokus mendengarkan perkataan orang.
“Ya, sudah, nanti sore kita ke rumah Nenek sambil bawa makanan, Mak. Sudah lama kan kita nggak makan bersama Nenek.” ujar Bapak menghibur.
“Iya, Mak. Jangan sedih, ya, makanannya nggak di makan sama teman-teman Bapak. Tapi masih bisa kita nikmatin bersama Nenek dan Kakek.” Luna memeluk Emak.
Senyum Emak terkembang. Lalu melepaskan pelukan Luna.
“Iya. Emak nggak pa-pa kok. Emak cuma lapar, dari tadi menunggu Bapak pulang.” kata Emak sambil mengambil piring dan menyiduk nasi.
Selesai

Komentar