Ketika Nenek Sakit

 


                 Sore hari yang indah mendadak menjadi runyam. Emak ditelepon Kakek, katanya Nenek sakit. Emak sebagai anak bungsu yang paling dekat dengan Nenek, otomatis merasa sedih karena Emak seakan-akan tidak merawat Nenek dengan baik. Padahal dalam seminggu, Emak pasti mampir kerumah Nenek bisa tiga sampai empat kali. Kalau hari libur, Bapak dan Luna ikut ke rumah Nenek dengan membawa penganan kesukaan Nenek.

                “Luna, ayo siap-siap, kita ke rumah Nenek.”Kata Emak dengan air mata yang membasahi pipi.

                “Iya, Mak.” Kalau sudah melihat Emak nangis, Luna tidak berani membantah. Khawatir membuat perasaan Emak semakin  sedih.

                Luna berganti baju dengan gamis biru yang baru sekali dipakainya ke pengajian kemarin. Mengenakan Hijab senada dengan sebuah bros berbentuk bunga yang disematkan di dadanya. Setelah menyapukan bedak di wajah, Luna keluar kamar. Ia terkejut melihat Emak sedang memasukkan beberapa baju ke dalam tas besar.

                “Mak, kok bawa baju segala?”

                “Emak kan harus merawat Nenek, Luna. Kasihan kalau Nenek sakit dan tidak ada yang merawatnya di rumah sakit.” jawab Emak sambil terisak.

                “Emak sudah telepon Bapak?”

                “Sudah. Bapak langsung ke rumah Nenek dari kantor.”

                “Kita nggak langsung ke rumah sakit, Mak?”

                “Kita ke rumah Nenek dulu baru ke rumah sakit.”

                Luna terdiam. Dalam hati ia berdoa, semoga sakitnya Nenek tidak parah, aamiin.

                Singkat cerita, Luna dan Emak sudah sampai di rumah Nenek dengan mengendarai bajaj. Emak langsung menghambur ke dalam rumah. Tinggal Luna yang terpaksa bayar bajaj dengan uang jajan yang sudah dikumpulkannya selama seminggu.

                “Assalammualaikum.”

                Kakek dan Nenek terdengar menjawab salam. Luna masuk ke dalam rumah dengan tas besar punya Emak. Luna mendapati Nenek tengah berbaring sambil menonton tivi di sofa. Sementara Emak duduk didekat kaki Nenek sambil memijit. Bapak juga sudah sampai dan duduk di sebelah Kakek.

                Luna mencium tangan Kakek, Nenek dan Bapak bergantian.

                “Nenek sakit apa?” Luna duduk di karpet dekat Nenek.

                “Nenek sakit kepala.”   

                “Darah tinggi Nenek kumat?”

                Nenek menggeleng.

                “Nenekmu hanya sakit flue. Tadi siang sudah Kakek antar ke klinik dekat rumah.”

                Terlihat Bapak, Emak dan Luna menghembuskan napas lega.

                “Alhamdulillah. Bukan penyakit yang parah.”

                “Tadi Emak sudah nangis, khawatir nenek sakit parah. Sudah bawa  baju segala.” kata Luna. Emak langsung mencubitnya.

                “Itulah, Emakmu selalu begitu. Tidak mau mendengarkan kata-kata Kakek dengan benar. Tadi Kakek bilang Nenek sedang kurang sehat. Belum selesai Kakek bicara, telepon sudah diputus. Kakek sudah bisa menebak pasti akan terjadi kesalah pahaman, dan benar bukan?”

                “Memang Emak selalu begitu, Kek.” Luna membenarkan kata-kata Kakek.

                Kali ini Luna mengaduh kencang. Emak mencubitnya lagi.

 

Selesai

 

Gb. Freepik

Komentar