Hadiah Hari Ibu Untuk Emak

               Luna menatap ke arah kalender meja. Tanggal dua puluh dua Desember jatuh pada hari Selasa. Berarti tinggal lima hari lagi adalah Hari Ibu. Luna berpikir keras akan memberikan sesuatu untuk Emak. Kalau meminta Emak libur sehari dari seluruh pekerjaan rumahnya, nanti siapa yang akan menggantikannya bebenah rumah? Kalau mau memberikan hadiah, apa yang pantas ia berikan? Uang tabungannya tidak banyak karena minggu lalu sudah sebagian diambil untuk membeli sepatu. Bingung jadinya.

               Kira-kira, Bapak mau memberikan hadiah apa, ya? tanya Luna dalam hati. Atau, lebih baik  patungan dengan Bapak?

               Luna beringsut ke luar kamar. Dilihatnya Bapak sedang menemani Emak menonton sinetron. Bapak hanya diam mendengarkan Emak terbawa emosi dengan adegan yang dibawakan sang artis. Tidak mungkin berbicara dengan Bapak saat ini, nanti Emak tahu. Kalau meminta Bapak meninggalkan ruang tivi pun, tidak mungkin. Pastinya Emak akan curiga. Rencana bisa gatot alias gagal total. Pikir Luna.

               Luna kembali ke dalam kamar. Lebih baik besok saja ia bicarakan dengan ayah sebelum acara sinetron favorit Emak mulai.

***

               “Kau sudah punya hadiah untuk Ibumu?” tanya  Rika pada Luna.

               Yang di tanya hanya menggeleng lesu sambil memandang keluar jendela kelas.

               “Belikan saja bunga.”

               “Emak nggak suka bunga.”

               “Belikan baju.”

               “Baju  pengajian Emak masih banyak.”

               “Lalu, apa dong?”

               “Itu yang aku masih bingung. Enaknya dibelikan apa ya?”

               Rika menelengkan kepalanya seerti sedang berpikir.

               “Kalau dibelikan kue? Ada tar coklat atau yang berbunga-bunga itu.”

               “Emak nggak doyan makanan Belanda. Emak doyan combro, cucur, yang begitu-begituan deh.”

               Rika menghembuskan napas.

               “Iya, ya, jadi bingung.”

               “Tuh, kan, bener, kan, bikin bingung?”

***

               Akhirnya, hari-H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah hari Selasa, tanggal dua puluh dua  Desember, yang berarti adalah Hari Ibu! Luna bimbang untuk keluar kamar. Padahal Emak dari tadi sudah memanggil-manggilnya untuk segera sarapan.

               Kasih sekarang atau nanti ya? Kalau aku kasih sekarang, Emak pasti langsung membukanya. Terus, kalau Emak malah tertawa, bagaimana? Masak, sih, memberikan kado Hari Ibu seperti ini? Murah. Luna menatap bungkusan berlapis kertas kado warna merah muda itu dengan gundah. Atau nanti aku belikan lagi hadiah yang lebih spesial?

               Tok..tok.. tok..

               “Luna, ayo sarapan. Bapak mau berangkat kerja nih.” Panggil Emak sambil mengetuk pintu kamarnya.

               “Iya, Mak, sebentar Luna keluar.”

               Dengan mengucapkan bismillah, Luna keluar kamar sambil membawa bungkusan yang disembunyikan di belakang punggungnya. Bapak sudah duduk di depan meja makan. Emak sedang menyendokkan nasi goreng dan ceplok telur ke piring dan memberikannya pada Bapak.

               “Mak, selamat Hari Ibu. Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik buat Luna.” Luna memeluk Emak.

               Emak yang semula terkejut, kini tersenyum lebar. Dipeluknya Luna dengan erat. Diciumnya kedua pipi Luna. Bapak yang melihat kejadian itu bangkit dari duduk dan ikut memeluk Emak.

               “Terima kasih, Mak, sudah menjadi  Ibu yang baik untuk anak kita.”

               “Wah, kalau begitu Emak bakal dapat hadiah, dong?”

               Luna dan Bapak tertawa sambil melepaskan pelukan. Bapak langsung duduk kembali ke kursinya dan melahap nasi gorengnya. Luna memberikan hadiah yang tadi disembunyikannya.

               “Untuk Emak. Jangan dilihat dari harganya ya,Mak.”

               “Makasih, Na. Yang penting niat, bukan harga.”

               Emak langsung merobek kertas kado dan membuka kotak kardus di dalamnya. Emak mengeluarkan isinya. Tiga buah daster batik beraneka warna dan motif. Lalu memadankan ke tubuhnya.

               “Luna tau ajah kalau Emak lagi perlu daster. Daster lama emak sudah ada yang robek-robek. Makasih ya, sayang.” Emak kembali mencium pipi Luna.

               “Alhamdulillah, kalau Emak suka sama hadiah dari Luna.”

               “Namanya juga hadiah, masak, sih, nggak suka?” Emak tersenyum bahagia. “Cuci dulu, ah, nanti baru Emak pakai.” Emak menyangkutkan ketiga daster itu di bahunya. Lalu memandang ke arah Bapak yang asyik dengan sarapannya.

               “Ehem..ehem..”

               “Emak kenapa? Batuk? Minum dulu, Mak.” Luna memberikan segelas teh manis hangat yang disediakan Emak di meja, pada Emak.

               “Emak nggak batuk. Emak lagi nunggu hadiah dari Bapak.” Emak melirik tajam ke arah Bapak.

Tiba-tiba gantian Bapak yang terbatuk-batuk karena tersedak nasi goreng. Bapak langsung minum tehnya, lalu bangkit dari duduk.

“Bapak harus berangkat kerja. Ini sudah hampir telat.”

Dengan kecepatan tinggi Bapak langsung meninggalkan Emak dan Luna, lalu menstarter motornya. Keduanya terbengong-bengong melihat kelakuan Bapak.

“Pak.. Bapak.. hadiah dari Bapak mana?!” teriak Emak sambil berlari menyusul Bapak ke arah teras rumah.

Tapi Bapak tak mendengar teriakan Emak, motor matic–nya telah membawa Bapak melaju meninggalkan rumah.  

 

Selesai

 

 

 

Komentar

Sri Sehry mengatakan…
Jadi ingat ibuku rahimahullah. Aku sering membelikan baju, termasuk daster. Alhamdulillah ibuku suka daster pilihanku. Sudah setahun aku berpisah dari ibuku yang menghadap ilahi. Alfatihah...
Arni narni mengatakan…
Innalillahi wainna illaihi rojiun... Semoga beliau di lapangkan kuburnya, ya, Mbak.
Alfatihah.