BELANJAAN  EMAK

Luna memandang Emak yang nampak berbeda pagi ini. Emak sudah berdandan rapi dan tas belanjaan sudah siap di tangan.

“Mak, mau belanja kok rapi sekali?”

“Emak mau mampir ke rumah Nenek setelah belanja nanti.”

“Lama di sana, Mak?”

“Sebelum zuhur Emak sudah pulang. Emak tau banget anak Emak yang cakep ini paling nggak bisa nahan lapar.”

Luna nyengir kuda. Setelah Emak pergi, Luna langsung ke kamar meneruskan membaca komik. Kali ini Luna bisa menghabiskan tiga komik sebelum emak pulang. Wah, senangnya baca komik tanpa gangguan Emak.

Dua jam berlalu. Perut Luna sudah berteriak meminta diisi tapi emak belum juga pulang. Luna memeluk bantal menekan perutnya. Siapa tahu sebentar lagi Emak pulang, pikirnya dalam hati. Diteruskannya kembali membaca komik.

Luna mendengar Azan Zuhur dikumandangkan. Tapi emak belum juga pulang. Pikirannya resah. Perutnya juga ikut berbunyi resah minta diisi.

Diambilnya ponsel dan memencet nomor telepon Emak. Sedetik kemudian terdengar suara panggilan tanda tersambung. Hingga tiga panggilan, namun Emak belum juga menjawab telepon. Luna berjalan kearah ruang tivi, sambil terus mencoba menelepon Emak. Namun ia mendengar musik dari arah dapur. Benar saja, Ponsel Emak tertinggal di meja dapur.

Luna memencet nomor telepon rumah Nenek.

“Tuuutt… Tuuut..”

“Hallo, assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam, Nek. Ini Luna, Emak ada di sana, Nek?”

“Nggak ada, Luna. Ini juga Nenek sedang nungguin, katanya mau kemari.”

“Oh, begitu, Nek. Nanti Luna telepon lagi, ya.”

“Klik.”

Sambungan telepon terputus. Sekarang luna yang panik. Emak kemana sudah siang begini tapi belum juga pulang?

“Tok..Tok..Tok..”

Ada suara pintu diketuk.

“Luna, bukain pintu, sayang.”

Suara Emak terdengar. Luna bergegas kearah pintu depan dan membuka kunci pintu.

“Lama amat buka pintunya.”

Luna melihat Emak berdiri di depan pintu dengan tas belanja,  lalu memeluknya.

“Alhamdulillah, Emak sudah pulang. Luna khawatir Emak nggak pulang-pulang.”

“Ya, Ampun Luna. Lebay banget. Emak kan pergi sebentar. “ Emak melepaskan pelukan Luna dan masuk ke dalam rumah.

“Panas banget di luar. Haus nih.” Emak membuka kulkas lalu mengambil botol air dingin dan menuangkannya ke dalam gelas. Glek.. glek.. glek..

“Emak tadi dari mana saja? Nggak jadi kerumah Nenek?”

“Emak tadi ketemu teman lama, terus ngobrol deh. Nggak sempat ke rumah Nenek.”

“Tapi sempet ke pasar kan? Luna sudah lapar nih, Mak.”

Emak melirik ke dalam tas belanjaannya lalu memegang kepala dengan kedua tangannya.

“Ya, ampun, Emak lupa!”

“Terus Luna makan apa nih, Mak? Luna Lapar.”

“Hari ini Emak nggak masak. Beli soto ayam di warung depan ajah dua bungkus. Emak juga lapar.”

Luna menepuk jidat. Emak memang begitu. Kalau nggak panik ya pasti  lupa.

 

Selesai.

 

 

Komentar